Wanita Pemilik Dua Ikat Pinggang

Bismillaahirrahmaanirrahim..

Asma binti Abu Bakar adalah seorang wanita terhormat karena kecerdasan, keberanian, dan tekadnya yang kuat. Beliau adalah wanita shahabiyah yang menyatukan kemuliaan dari segala sisinya. Ayahnya adalah Abu Bakar Ash-Shidiq, saudarinya adalah Aisyah Ummul-Mu’minin, suaminya adalah Az-Zubair bin Awwam, anaknya adalah Abdullah bin Az-Zubair.

Pengabdian dan pengorbanan Asma membela agama Allaah begitu besar, sehingga ia dijuluki sebagai Dzatun Nithaqain (wanita pemilik dua ikat pinggang). Peran yang dilakukan Asma binti Abu Bakar ketika Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak berhijrah ke Madinah merupakan perbuatan yang sangat mulia. Tidak dapat terpisahkan dari kisah hijrahnya Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau sendiri telah menceritakan hal ini dengan berkata, “Aku telah membuat makanan untuk Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Ayahku, ketika mereka hendak berhijrah. Aku tidak mendapatkan sesuatu yang dapat aku jadikan tali untuk mengikat (tempat) makanan dan minumannya. Aku berkata kepada Ayahku, ‘Aku tidak mendapatkan tali kecuali ikat pinggangku.’ Ayahku berkata, ‘Belah sabukmu menjadi dua, kemudian ikat (tempat makanan dan minumannya) dengan sabukmu!’” [Al-Bukhari, 3/1087]

Selama Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur, Asma binti Abu Bakar ditugaskan untuk mengantarkan makanan. Perjalanan Asma dari Makkah menuju Gua Tsur tidaklah mudah, ia harus mendaki gunung yang dikelilingi bebatuan, menapaki jalan dengan medan ekstrim, gersang, dan tidak ada pepohonan untuk berteduh. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk mengemban tugas yang mulia.

Diceritakan pula, pada saat itu Abu Jahal sebagai pemuka Quraisy mendatangi rumah Abu Bakar untuk mencari tahu keberadaan Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar melalui Asma. Namun, Asma dengan pendirian dan tekadnya tidak mau membocorkan. Di puncak kemarahannya, Abu Jahal menampar wajah Asma sampai anting-antingnya patah dan jatuh. Akan tetapi, intimidasi yang Abu Jahal lakukan tidak menjadikan Asma gentar.

Demikianlah, sikap yang Asma tunjukkan ini menyiratkan ketangguhan, kecerdasan, dan kesabaran yang ia miliki. Hal ini tidak lain adalah buah dari keimanannya yang kuat. Beliau telah memberikan suri teladan kepada para muslimah, mendorong kita untuk berkorban di jalan Allaah, walaupun harus mengorbankan sesuatu yang kita butuhkan. Sebagaimana firman Allaah Ta’ala, “Dan mereka mengutamakan orang lain daripada diri mereka sendiri padahal mereka sangat membutuhkannya.” [QS. Al-Hasyr: 9]

Wallaahu a’lam.

Bandung, 14 Rajab 1441

Penulis: Ummu Naufa
Mahasiswi Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam Ma’had Imarat

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Maraji’:
Para Shahabiyat Nabi (Terjemahan dari Shuwar Min Siyar ash-Shahabiyyat radhiyallaahu ‘anhum dan Durus Min Hayat ash-Shahabiyyat), Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani.
Kisah Wanita-Wanita Inspiratif di Zaman Rasulullaah, Ustadz Syafiq Riza Basalamah, https://youtu.be/eMtg9nnIgjk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *