Wahai Saudariku, Ketahuilah Hakikat Dunia

بسم الله الرحمن الرحيم

Wahai saudariku, ketahuilah bahwa seorang mukmin yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan hari akhir wajib mengimani bahwa dunia ini fana dan dilaknat oleh Allah عزّوجلّ.

Nabi kita yang mulia صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya. Kecuali berdzikir kepada Allah, ketaatan kepada-Nya, orang yang berilmu, atau orang yang mempelajari ilmu.” [1]

Sesungguhnya dunia ini penuh dengan senda gurau dan tidak ada harganya di sisi Allah سبحانه وتعالى.

Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَمَا الحَيوٰةُ الدُّنيا إِلّا لَعِبٌ وَلَهوٌ ۖ وَلَلدّارُ الـٔاخِرَةُ خَيرٌ لِلَّذينَ يَتَّقونَ ۗ أَفَلا تَعقِلونَ

“Dan tidaklah kehidupan dunia melainkan hanyalah permainan dan senda gurau. Dan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak berpikir?” [QS. Al-An’am :32]

Allah سبحانه وتعالى bahkan mengabarkan bahwa setiap yang hidup pasti akan mati dan pahala baru akan disempurnakan ketika hari kiamat. Jadi, seorang mukmin tidaklah patut untuk mengangan-angankan dunia padahal nikmat dunia jika dibandingkan dengan akhirat tidaklah diberikan kecuali hanya seperti air yang ada di tangan ketika ia dicelupkan ke dalam lautan yang luas. Allah سبحانه وتعالى pun mengabarkan bahwa keberuntungan sebenarnya adalah ketika seseorang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Setelah itu Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah memperdayakan dan melalaikan saja. Peringatan ini adalah agar semakin teguh hati kita kepada akhirat. Semua ini Allah kabarkan dalam firman-Nya yang agung,

كُلُّ نَفسٍ ذائِقَةُ المَوتِ ۗ وَإِنَّما تُوَفَّونَ أُجورَكُم يَومَ القِيـٰمَةِ ۖ فَمَن زُحزِحَ عَنِ النّارِ وَأُدخِلَ الجَنَّةَ فَقَد فازَ ۗ وَمَا الحَيوٰةُ الدُّنيا إِلّا مَتـٰعُ الغُرورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [QS. Ali ‘Imran: 185]

Allah سبحانه وتعالى juga berfirman,

وَما أوتيتُم مِن شَىءٍ فَمَتـٰعُ الحَيوٰةِ الدُّنيا وَزينَتُها ۚ وَما عِندَ اللَّـهِ خَيرٌ وَأَبقىٰ ۚ أَفَلا تَعقِلونَ

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kalian tidak berpikir.” [QS. Al-Qasas: 60]

Bahkan perumpamaan dunia ini tidak lebih baik dari bangkai kambing yang cacat.

Dari Jabir رضي الله عنه , “Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم berjalan melewati pasar sedang manusia berada di sisi beliau. Beliau berjalan melewati anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil dan telah mati. Sambil memegang telinganya beliau bersabda, “Siapa di antara kalian yang suka membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau bersabda, “Apakah kalian suka jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allah, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau bersabda,

فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Demi Allah, sungguh dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai kambing ini bagi kalian.” [2]

Bahkan, sedikit pun dunia ini tidak berharga meski seberat sayap nyamuk. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

لَوْ كَانَتِ الدُّنْـيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Kalau seandainya dunia ini berharga meski hanya seberat sayap nyamuk, maka Allah tidak akan memberikan sedikitpun air kepada orang kafir.” [3]

Dunia itu selayaknya kotoran bagi manusia.

Dari Adh-Dhahhak bin Sufyan رضي الله عنه bahwa Rasul صلى الله عليه وسلم berkata kepadanya, “Wahai Dhahhak, apa makananmu?” Dia menjawab, “Daging dan susu.” Rasul صلى الله عليه وسلم berkata, “Kemudian menjadi seperti apa?” Dia menjawab, “Menjadi seperti apa yang engkau telah ketahui.” Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Allah membuat perumpamaan untuk dunia ini seperti sesuatu (kotoran) yang keluar dari tubuh manusia.” [4]

Teguran demi teguran ini seharusnya membuat hati kita berpikir terhadap hina dan fananya dunia. Wahai saudariku, tidaklah sama sekali sebanding apa yang ada di sisi Allah terhadap dunia dan segala isinya. Tunduk dan bertakwalah kepada-Nya. Sungguh, tidaklah berguna pakaian mahal yang engkau beli terhadap akhiratmu bahkan sedikit pun. Tidaklah berguna makanan yang engkau jelajahi untuk mendapatkannya terhadap akhiratmu bahkan sedikit pun. Ketahuilah, semua harta dan kelalaianmu akan dihisab.

Allah الخالق berfirman,

أَلَم يَأنِ لِلَّذينَ ءامَنوا أَن تَخشَعَ قُلوبُهُم لِذِكرِ اللَّـهِ وَما نَزَلَ مِنَ الحَقِّ وَلا يَكونوا كَالَّذينَ أوتُوا الكِتـٰبَ مِن قَبلُ فَطالَ عَلَيهِمُ الأَمَدُ فَقَسَت قُلوبُهُم ۖ وَكَثيرٌ مِنهُم فـٰسِقونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Al-Hadid: 16]

والله مستعان

[Diringkas dari kajian guru kami Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz حفظه الله dengan judul “Hakikat Dunia dan Cara Membersihkan Hati” dengan sedikit tambahan.]

Bandung, 15 Rajab 1441 H

Penulis: Ummu Salamah
Mahasiswi FPEB UPI

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Referensi:
[1] Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2322). Lihat Shahih at-Targhib wat-Tarhib (No. 74).
[2] Shahih: HR. Muslim (no. 2957).
[3] Shahih: At-Tirmidzi (no. 2320) dan Ibnu Majah (no. 4110) dari Sahl bin Sa’d رضي الله عنه. Lafazh ini milik at-Tirmidzi.
[4] Shahih Lighairihi: HR. Ahmad (III/452). Lihat Shahih at-Targhib wat-Tarhib (No. 3242).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *