Sebelum Memutuskan untuk Menjadi Penuntut Ilmu

Fenomena hijrah beberapa tahun belakangan ini menjadi topik hangat yang banyak diperbincangkan. Pemuda-pemudi berlomba-lomba untuk memperbaiki diri dan mengikuti tren hijrah seperti yang banyak dilakukan oleh tokoh publik, aktor, penyanyi, sampai selebgram, diikuti dengan banyaknya bermunculan brand-brand fashion syar’i yang menjual perlengkapan hijrah. Hal ini tentu menjadi kabar gembira untuk kita semua dengan banyaknya orang yang perhatian pada majelis ilmu, bahwa dakwah sudah mulai menyebar ke berbagai lapisan masyarakat, alhamdulillaah.

Namun ada hal penting yang perlu diperhatikan. Bahwa hijrah itu bukan hanya sekedar mengganti pakaian yang sebelumnya belum menutup aurat dengan sempurna, perlahan-lahan memakai gamis dan jilbab panjang bahkan lengkap dengan cadar, berjenggot dan bercelana cingkrang bagi laki-laki, mengganti ucapan menjadi ana-antum, meninggalkan teman-teman yang belum berhijrah, atau memenuhi postingan akun media sosial dengan faidah dan video-video pendek para asatidz. Kemudian apakah sudah merasa cukup sampai di situ dan mengganggap diri sebagai seorang penuntut ilmu?

Hal tersebut memang baik dan sangat diharapkan, namun yang dimaksudkan disini adalah, bahwa hijrah bukan hanya masalah permukaan. Lebih jauh, hijrah adalah masalah hati, dimana hal itu berhubungan dengan niat. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits ahad yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907].

Untuk itu, sebagai seorang yang memiliki keinginan kuat untuk menjadi lebih baik dan bertekad untuk memiliki pemahaman yang benar tentang agama ini, perlu kita mengetahui beberapa hal berikut.

Niat dalam Menuntut Ilmu [I]

Thalabul ‘ilmi termasuk ibadah yang paling mulia, ia menjadi wasilah bagi seseorang untuk memperbaiki dirinya, juga iman dan ibadahnya. Untuk itu penting untuk meluruskan niat sebelum belajar, yaitu niat yang ikhlas hanya untuk Allah.

Penting bagi kita mengetahui perusak niat, di antaranya ada dua syahwat tersembunyi yang dapat menghampiri setiap muslim yang hendak menuntut ilmu.

Syahwat yang pertama, menjadikan ilmu sebagai wasilah untuk menggapai dunia.

Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga, apabila ditujukan untuk dunia maka bisa jadi ia tidak mendapatkan pahalanya di akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Syahwat yang kedua, mencari ilmu syar’i dijadikan wasilah untuk kepemimpinan, kemuliaan, mendapat derajat yang tinggi di antara manusia, atau untuk mendapat keagungan dari orang lain dan menjadi pusat perhatian. Diantara ciri syahwat kedua ini biasanya seseorang itu tergesa-gesa dalam belajar atau mengajar. Hanya dengan modal mengambil permasalahan dari berbagai sumber atau sebagiannya saja, kemudian mendudukkan dirinya sebagai seorang mufti bahkan membuka majelis. Di antara ciri lainnya, ia lebih menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu yang sifatnya ijtihad dan tidak mengutamakan ilmu yang dasar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ.ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ

“Orang yang pertama kali diputuskan pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid di jalan Allah. Lalu dia didatangkan, kemudian Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-Nya, maka dia pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang tersebut menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukan itu supaya disebut sebagai seorang pemberani dan ucapan itu telah dilontarkan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah), sampai dia pun dilemparkan di neraka.”

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ

“Kemudian ada orang yang belajar agama dan mengajarkannya, serta membaca Al Qur’an. Lalu orang itu didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya dan orang itu pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku telah belajar agama, mengajarkannya dan aku telah membaca Al Qur’an.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau belajar agama supaya disebut orang alim dan engkau membaca Al Quran supaya disebut qari’ dan ucapan itu telah dilontarkan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah) sampai dia pun dilemparkan di neraka.”

وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ

“Kemudian ada seorang laki-laki yang diberikan kelapangan oleh Allah dan menganugerahinya segala macam harta. Lalu dia pun didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya itu dan orang itu pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku tidak meninggalkan satu jalan pun sebagai peluang untuk berinfak melainkan aku berinfak di situ semata-mata karena-Mu.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukan seperti itu supaya disebut dermawan dan ucapan itu telah dilontarkan.” Maka orang itu diperintahkan untuk dibawa, lalu dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah), kemudian dia dilemparkan di neraka.” (HR. Muslim no. 1905).

Semoga kita terhindar dari kedua jenis syahwat yang merusak niat tersebut. Untuk itu perlu kita mengetahui bagaimana cara agar tidak terjerumus ke dalamnya, yaitu dengan mengetahui ciri penuntut ilmu dan melakukan apa yang dilakukan oleh para salaf dan ulama terdahulu dalam menuntut ilmu.

Ciri Penuntut Ilmu [II]

Penuntut ilmu dapat dikenali sebagai seorang penuntut ilmu jika ia memenuhi dua sifat berikut, yang dengannya ia dikategorikan sebagai seorang penuntut ilmu. Tanpa kedua hal ini ia tidak termasuk penuntut ilmu. Tentu yang dimaksud adalah penuntut ilmu syar’i. Sifat tersebut adalah:

1. Mempelajari agama secara terkurikulum dan terstruktur (tadarruj)

Dimulai dari mempelajari Aqidah dan Bahasa Arab. Aqidah sangat penting diprioritaskan untuk memurnikan tauhid agar ia tidak tersesat dan selalu berada di jalan yang benar. Sedangkan Bahasa Arab adalah modal dasar seorang penuntut ilmu untuk mempelajari kitab-kitab ulama. Merupakan aib bagi seorang penuntut ilmu jika ia tidak bisa membaca kitab arab gundul atau ia tidak mempelajari bahasa arab. Maka seorang penuntut ilmu dipastikan sedang berada di salah satu kondisi yaitu sudah bisa membaca kitab atau sedang mempelajari bahasa arab.

Hal ini membedakan antara penuntut ilmu dengan pecinta ilmu. Jika seseorang belajar secara terstruktur dan terkurikulum maka ia termasuk penuntut ilmu, namun jika tidak maka seseorang dikategorikan sebagai pecinta ilmu, mungkin ia hanya sempat menghadiri majelis ilmu dengan mengikuti tabligh akbar atau kajian-kajian tematik.

2. Memiliki semangat untuk terus belajar

Jika ia tidak memiliki semangat, maka ia tidak dikategorikan sebagai penuntut ilmu. Maka sudah seharusnya seorang yang ingin mendalami ilmu syar’i berusaha untuk konsisten, menjaga semangatnya, dan berusaha mengembalikan semangatnya ketika futur sehingga tidak berlarut-larut dalam ke-futur-an.

Penutup, semoga hal ini dapat menjadi pengingat, sebagai seorang yang ingin memperbaiki diri dengan mempelajari ilmu syar’i. 

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224).

Diharapkan hijrah kita tidak hanya di permukaan, tapi juga dengan memperbaiki hati, niat, mempelajari ilmu agama yang menjadi dasar kita untuk beramal, dan lebih baik jika serius mendalami ilmu syar’i.

Wallahu a’lam.

Penulis: Ummu ‘Abdillah
Alumni FMIPA UNPAD
Mahasiswi SITH ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Sumber:
[I] Faidah kajian Kitab Barnamaj ‘Amaliy Al-Mutafaqqihin bersama Ustadz Galih Suarsa hafizhahullah, 29 Oktober 2019.
[II] Faidah kajian tematik bersama Ustadz Andy Octavian Latief hafizhahullah, 12 Februari 2020.
https://rumaysho.com/7252-belajar-agama-hanya-untuk-mencari-dunia.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *