Sayur Lodeh Pencegah Corona, Termasuk Syirik?

Wabah corona yang telah ditetapkan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) ini menjadikan masyarakat Indonesia meningkatkan kewaspadaan serta menggalakkan hal-hal yang dapat mencegah dari virus corona. Di antara tindakan preventif yang dilakukan adalah meningkatkan frekuensi mencuci tangan, menghindari kerumunan, serta melakukan social distancing, yaitu memberi jarak dengan orang lain yang hal ini diharapkan dapat mengurangi resiko terkena pandemi ini. Tentu semua orang ingin terhindari dari wabah ini, sehingga masing-masing berusaha mencari tindakan apa saja yang dapat mencegah penyebaran wabah ini.

Namun banyak dari tindakan tersebut tidak dilandasi dengan ilmu agama serta bukti ilmiah, yang bisa jadi hal tersebut merupakan perbuatan syirik. Namun, karena kurangnya ilmu, masyarakat tidak mengetahui bahwa sudah terjerumus kepada perbuatan tersebut. Salah satu yang sedang ramai belakangan ini adalah memasak sayur lodeh 7 macam anti-pagebluk. Pagebluk dalam bahasa Jawa adalah bala, sehingga sayur lodeh tersebut berarti sayur lodeh anti bala. Masyarakat membuat sayur lodeh anti-pagebluk tersebut dengan keyakinan bisa menolak bala yang saat ini sedang mewabah yakni virus corona. Namun apakah hal tersebut dibenarkan? Bagaimana pandangan dalam agama Islam dan juga secara ilmiah?

Meskipun Hoax, Tetap Dilakukan

Resep sayur lodeh 7 macam ini banyak beredar di grup Whatsapp, disertai dengan poster yang menampilkan seorang Raja dari Keraton Yogyakarta. Dalam pesan tersebut berisi saran untuk membuat sayur lodeh 7 warna disaat menghadapi bala, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuatnya serta keterangan makna setiap sayur menggunakan sastra Jawa. Namun hal tersebut dibantah oleh aparat setempat. Meski begitu, banyak masyarakat yang tetap membuat sayur tersebut dengan harapan dapat menolak bala yang ada.

Perbuatan menolak bala seperti ini sama dengan tindakan yang dilakukan orang musyrik pada zaman dahulu. Para musyrikin pada zaman dahulu menggunakan gelang untuk menolak bala agar dapat menolak penyakit pada saat itu, dan Rasulullah menyuruh untuk melepasnya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

أَخْبَرَنِي عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً، أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ، فَقَالَ: «وَيْحَكَ مَا هَذِهِ؟»، قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ؟ قَالَ: «أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا انْبِذْهَا عَنْكَ؛ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا».

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika melihat seorang lelaki yang di tangannya terdapat gelang dari kuningan, maka beliau bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Untuk menangkal penyakit.” Maka Nabi mengatakan, “Lepaskan saja, karena sesungguhnya gelang itu tidak akan memperbaiki keadaanmu kecuali kamu semakin bertambah lemah. Bahkan kalau kamu meninggal dalam keadaan masih memakai gelang itu, tentu kamu tidak akan bahagia selamanya.” [HR. Ahmad, sanadnya la ba’sa bih] ¹

Rasulullah tentu menyuruh untuk melepasnya bukan tanpa alasan. Perbuatan tersebut sejatinya tidak bisa menghilangkan bala apapun. Justru hal itu membahayakan bagi penggunanya, apabila masih dilakukan hingga meninggal maka kenikmatan di dunia akhirat pun tidak akan bisa didapatkan. Pertolongan Allah tidak akan terjadi melalui perantara tersebut. Karena Allah berlepas diri dari seluruh perbuatan syirik.

Sama halnya dengan memasak sayur lodeh 7 macam ini, tidak ada ajarannya dalam agama namun masyarakat meyakini hal tersebut dapat menolak bencana. Sudah hoax, tidak ada dalam agama, bahkan tidak ada kajian ilmiah, masih juga dilakukan? Apakah tidak takut dengan azab Allah bagi pelaku kesyirikan? Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 48:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” ²

Jika seseorang meyakini bahwa perbuatan menolak bala itu merupakan satu-satunya perbuatan yang dapat menolak bala, maka orang tersebut telah melakukan syirik akbar yang dapat menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam. Namun apabila seseorang meyakini bahwa perbuatan tersebut menjadi sebab datangnya pertolongan Allah maka ini termasuk syirik ashgor atau syirik kecil. Meskipun syirik kecil, hal itu tetap merupakan perbuatan syirik yang termasuk salah satu dosa besar.

Apakah Ada Kajian Ilmiah mengenai Hal Ini?

Tidak ada bukti ilmiah mengenai sayur lodeh ini dapat menolak penyakit, khususnya virus corona yang akhir-akhir ini sedang mewabah. Ahli di bidang tersebut tidak pernah menyatakan bahwa sayur lodeh dapat menangkal penyakit yang ada. Namun memang, kandungan gizi yang ada dalam sayur lodeh sangat baik sehingga dapat membantu memenuhi gizi harian karena berisi rempah-rempah dan sayuran yang sudah terbukti baik untuk kesehatan. Namun apabila memang mengkhususkan memakan sayur lodeh tersebut dengan tujuan menolak bala maka hal ini jelas dilarang.

Memperbanyak mengonsumsi sayuran dapat menguatkan daya tahan tubuh di saat wabah penyakit seperti ini. Daya tahan tubuh yang baik sangat dibutuhkan karena dengan begitu virus dapat dilawan. Seperti sayur lodeh yang biasa dibuat pada hari-hari biasanya, sayur tersebut memiliki nutrisi yang baik hingga protein sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Tindakan yang Dapat Menolak Bahaya yang Disyariatkan

Adapun agama islam merupakan agama yang telah sempurna. Seluruh aspek kehidupan telah diatur di dalamnya termasuk tindakan apa saja yang bisa menolak bahaya yang ada. Salah satunya adalah dengan berdoa kepada Allah agar terhindar dari segala bahaya yang ada. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An’am ayat 41:

بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِن شَآءَ وَتَنسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ

“(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).” ³

Selain itu, pemerintah Indonesia serta WHO telah menyuruh setiap orang untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengurangi resiko tersebarnya virus corona. Seperti meningkatkan kebersihan diri, mengurangi aktivitas di luar rumah, tidak memegang muka kecuali dengan tangan yang telah dipastikan bersih, dan tidak bepergian keluar kota sementara waktu. Semoga Allah selalu memberikan penjagaannya kepada hambaNya dan hanya Allah lah yang dapat menghentikan penyebaran wabah ini.

Hanya kepada Allah lah kita meminta. Wallahu a’lam.

Bandung, 27 Rajab 1441H (22 Maret 2020)

Penulis: Ummu Sauda
Mahasiswi STEI ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

¹ https://muslim.or.id/8699-gelang-penolak-bala.html
² https://muslim.or.id/45492-allah-taala-tidak-mengampuni-dosa-syirik.html
³ https://tafsirweb.com/2165-quran-surat-al-anam-ayat-41.html

Referensi:
https://buletin.muslim.or.id/budaya-jimat-di-masyarakat/
https://rumaysho.com/23615-khurafat-saat-wabah-corona-buat-sayur-lodeh-tujuh-macam.html
https://www.gatra.com/detail/news/472843/gaya-hidup/sayur-lodeh-7-warna-ala-warga-yogya-kala-pagebluk-corona

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *