Problema Darah Istihadhah

Darah istihadhah adalah darah yang mengalir bukan pada waktu haid dan nifas atau bersambung kepadanya. Darah istihadhah berwarna merah dan terjadi karena adanya pembuluh darah yang terputus. [1] Kebanyakan para muslimah tidak mengetahui perkara ini dan mereka abai terhadapnya. Padahal sangat penting mengetahui apakah darah yang keluar itu termasuk darah haid, nifas atau darah istihadhah, karena keluarnya darah ini berkaitan dengan ibadah seorang muslimah. [2]

Keadaan dan Dalil Darah Istihadhah [3]

1. Apabila seorang muslimah mengetahui secara pasti berapa hari haidnya, maka darah yang keluar setelah masa haidnya dianggap darah istihadhah.

فعن عائشة قالت: إن أم حبيبة سألت رسول الله ﷺ عن الدم؟ فقالت عائشة: رأيت مركنها ملآن دما، فقال لها رسول الله ﷺ: «امكثى قدرما كانت تحبسك حيضتك ثم اغتسلى وصلي».

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata: Sesungguhnya Ummu Habibah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang darah, Aisyah berkata: Aku melihat tempat mencuci pakaiannya penuh dengan darah. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Berhentilah dari sholat selama masa haid yang biasa kamu jalani, kemudian mandilah dan sholatlah.” [Hadits diriwayatkan oleh Muslim (hlm. 264 – Abdul Baqi), Abu Dawud (279), dan An-Nasa’i (1/119)]

2. Apabila seorang muslimah tidak mengetahui berapa lama masa haidnya, tetapi mampu membedakan antara darah haid dan darah istihadhah, maka mandilah dan kerjakanlah sholat sesudah darah haidnya berhenti.

فعن عائشة قالت: جاءت فاطمة ابنة أبى حبيش إلى النبى ﷺ، فقالت: يا رسول الله، إنى امرأة أستحاض فلا أطهر أفأدع الصلاة؟ فقال: «لا، إنما ذلك عرق، وليس بحيض، فإذا أقبلت حيضتك فدعى الصلاة، وإذا أدبرت فاغسلى عنك الدم ثم صلي».

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata: Fatimah binti Abu Hubaisy datang menemui Nabi ﷺ, lantas dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah seorang perempuan yang mengalami istihadhah, saya tidak pernah suci, apakah saya harus meninggalkan shalat terus menerus?” Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak. Itu hanyalah urat pembuluh darah, bukan haid. Apabila haidmu datang maka tinggalkan sholat. Ketika haidmu pergi, maka mandilah dan basuhlah darah dari tubuhmu kemudian kerjakanlah sholat.” [Hadits diriwayatkan oleh Al-Bukhari (228), Muslim (hlm. 262), dan selainnya]

3. Apabila seorang muslimah baru pertama kali mengalami haid, kemudian ia disertai darah istihadhah, sehingga belum bisa membedakan mana darah haid dan mana darah istihadhah, maka tindakan wanita ini adalah mengetahui keadaan haid yang biasa dijalani mayoritas wanita seusianya di sekitarnya. Misalnya enam atau tujuh hari setiap bulannya, maka dia harus menunggu masa haidnya hingga enam atau tujuh hari. Adapun sesudah itu, dia harus mandi. Apabila ada darah yang masih mengalir setelahnya maka darahnya dihukumi darah istihadhah.

وقد ورد أن النبى ﷺ، قال لحمنة بنت جحش: «إنما ركضة من ركضات الشيطان فتحيضى ستة أيام أو سبعة فى علم الله ثم اغتسلي، حتى إذا رأيت أنك قد طهرت واستنقيت فصلي أربعا وعشرين ليلة أو ثلاثا وعشرين وأيامهن، وصومي، فإن ذلك يجزيك، وكذلك فافعلي فى كل شهر، كما تحيض النساء وكما يطهرن لميقات حيضهن وطهرن».

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Hammah binti Jahsy, “Sesungguhnya itu hanyalah salah satu dari sekian banyak dorongan setan, oleh karenanya hendaklah kamu menjalani haid selama enam atau tujuh hari, dalam ilmu Allah, kemudian mandilah. Sampai ketika engkau telah suci dan sudah bersih, maka kerjakanlah sholat selama dua puluh tiga hari atau dua puluh empat hari, dan berpuasalah. Maka sesungguhnya itu sudah mencukupimu. Begitulah yang hendaknya kau lakukan setiap bulannya, sebagaimana wanita biasa menjalani haid, dan sebagaimana mereka bersuci sesudah masa haidnya selesai dan ketika mereka sudah suci.” [Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud (287), Asy-Syafi’i dalam Al-Umm (1/51), Ibnu Majah (622), At-Tirmidzi pada kitab Ath-Thaharah (bab 95), sanadnya dhaif, akan tetapi Al-Albani menyatakan hadits ini berderajat hasan, dalam kitab Irwa’ Al-Ghalil (205)]

4. Apabila seorang perempuan lupa terhadap kebiasan haidnya, baik kadar maupun waktunya, dia pun tidak mampu membedakan antara haid dan istihadhah, maka dalam menyikapi ini para ulama terbagi menjadi beberapa pendapat. Pendapat yang paling kuat adalah yang menyatakan bahwa keadaan ini dianggap seperti keadaan ketiga.

Hukum yang Berlaku Pada Wanita Istihadhah

  1. Wanita istihadhah dihukumi suci dari hadats. Maka tidak diharamkan baginya apa saja yang diharamkan wanita yang mengalami haid.
  2. Wanita istihadhah tetap berpuasa, mendirikan sholat, membaca al-Qur’an, menyentuh mushaf dan lainnya seperti wanita yang suci berdasarkan ijma para ulama.
  3. Wanita istihadhah tidak diwajibkan berwudhu setiap sholat.
  4. Wanita istihadhah boleh disetubuhi oleh suaminya meskipun darah mengalir dari kemaluannya.
  5. Wanita istihadhah dibolehkan melaksanakan i’tikaf di masjid.

Bandung, 18 Maret 2020

Penulis: Ummu Farras
Mahasiswi FPMIPA UPI

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Referensi:

[1] Tuntunan Praktis Fiqih Wanita karya Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan. Bogor: Pustaka Ibnu Umar, 2013.

[2] Kajian Kitab Fiqih Sunnah Linnisa bersama Ustadzah Ummu Hafshoh 2020

[3] Fiqih Sunnah Linnisa karya Abu Malik (Kamal bin Sayyid Salim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *