Niat adalah Pondasi dalam Beramal

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Niat adalah pondasi dalam seluruh amal yang kita kerjakan. Niat yang ikhlas menjadi syarat diterimanya suatu amalan. Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari hakikat dari niat. Simak penjelasan berikut tentang niat dalam hadits pertama yang tercantum di Hadits Arba’in.

Dari Amirul-Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Hadits ini merupakan hadits yang sangat agung meskipun hadits ini adalah hadits ahad dan hadits ghorib karena tidak ada yang meriwayatkan kecuali dari jalan ‘Umar bin Khaththab, dan tidak ada yang meriwayatkan dari beliau kecuali ‘Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi, dan tidak ada yang meriwayatkan dari beliau kecuali Muhammad bin Ibrahim At-Taimi, dan tidak ada yang meriwayatkan dari beliau kecuali Yahya bin Sa’id Al-Anshari. Kemudian baru dari beliaulah hadits ini diriwayatkan oleh puluhan atau ratusan perawi. Apabila hadits ini hanya diriwayatkan dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu saja maka telah mencukupinya. Karena ‘Umar radhiyallahu ‘anhu merupakan salah satu Khulafaur-Rasyidin yang jika berpendapat dibenarkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, selain itu jalan serta perawi hadits ini sudah kuat dan terpercaya. Hadits ini menjadi pembuka pada kitab Shohih Bukhori. Imam Nawawi pun mengawali Hadits Arba’in dengan hadits ini dan banyak ahli ilmu lainnya yang mengawali tulisannya dengan hadits ini.

Hadits ini merupakan hadits yang shohih dan telah disepakati keshohihannya oleh para ulama. Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Hadits ini masuk ke dalam 70 bab fiqih,” dan, “Hadits ini merupakan sepertiga ilmu.” Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, “Pondasi Islam berada di atas tiga hadits, yaitu: hadits Umar (الأعمَال بالنِّيَّاتِ), hadits Aisyah (مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ), dan hadits Nu’man bin Basyir (الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الَحرَامَ بَيِّنٌ). Maka setiap muslim dan muslimah wajib untuk mengetahui hadits ini. Para ulama salaf menyukai untuk mengawali tulisannya dengan hadits ini sebagai peringatan kepada penuntut ilmu untuk memperbaiki niatnya dan hanya berharap mendapatkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla dari setiap amal yang dikerjakannya, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ

Kata innamaa dalam hadits ini berfungsi sebagai pembatas, maksudnya adalah pembatas niat. Alif laam dalam kata a’maal bermakna khusus untuk taqarrub atau ibadah yang pelakunya mendapat pahala apabila mengerjakannya. Tetapi dikatakan dapat pula bermakna umum untuk kebiasaan seperti makan, minum, dan tidur yang juga akan berpahala apabila diniatkan agar kuat beribadah. Dan niat secara bahasa artinya tujuan. Hadirnya niat akan membedakan ibadah, seperti membedakan suatu ibadah wajib dengan ibadah wajib lainnya atau ibadah wajib dengan ibadah sunnah, atau membedakan ibadah dan kebiasaan seperti mandi janabah dengan mandi untuk membersihkan badan. Dan niat tempatnya di dalam hati, melafadzkannya adalah kebid’ahan karena tidak ada dalil melafadzkan niat.

Dalam hadits ini Rasulullah mengajarkan apabila seseorang melakukan sebuah amalan maka hendaknya ia memeriksa niatnya, segala hal yang dilakukan harus berlandaskan pondasi niat. Niat berfungsi untuk membenarkan ibadah karena niat menjadikan sah suatu ibadah. Hampir semua ibadah memiliki rukun pertama niat. Tanpa niat, ibadah tidak akan bernilai di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Selain itu, fungsi dari niat adalah menjadikan amal biasa sebagai ibadah. Ibadah terbagi menjadi dua, yaitu ibadah mahdhoh dan ibadah ghoyru mahdhoh. Ibadah mahdhoh adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, seperti sholat, puasa, zakat, dll. Sedangkan ibadah ghoyru mahdhoh adalah kebiasaan mubah yang dengan niat dapat bernilai ibadah, seperti makan dan istirahat agar kuat untuk beribadah.

وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

Kalimat ini (wa innamaa li-kulli imri’in maa nawaa) bukan merupakan pengulangan dari kalimat pertama (innamal-a’maalu bin-niyyaat). Kalimat pertama menunjukkan bahwa baik atau buruknya suatu amalan itu adalah sesuai niatnya. Adapun kalimat kedua menunjukkan bahwa pahala akan diberikan untuk seseorang yang beramal dengan niat yang baik, dosa akan diberikan untuk seseorang yang beramal dengan niat yang buruk, dan seseorang tidak akan mendapat dosa ataupun pahala apabila beramal dengan niat mubah.

Sebuah ibadah jika dilakukan dengan niat yang salah tidak akan bernilai di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, bahkan pelakunya berdosa. Contohnya berdo’a dan menyembelih apabila diniatkan untuk selain Allah maka akan berdosa. Pada hari akhir nanti, seseorang akan mendapat catatan amal bukan hanya berdasarkan apa yang ia kerjakan di dunia, melainkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Amalan yang diniatkan ikhlas hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla akan bernilai kebaikan, sedangkan amalan sebaik apapun jika diniatkan untuk selain Allah ‘Azza wa Jalla akan bernilai keburukan. Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Aku tidak pernah berusaha memperbaiki sesuatu yang lebih susah dari niatku.”

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Hijrah berarti meninggalkan, yaitu meninggalkan negeri tidak aman menuju negeri aman seperti hijrah dari Mekah ke Habasyah, dan meninggalkan negeri kafir menuju negeri Islam seperti hijrahnya para sahabat pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dari Mekah ke Madinah dengan berjalan jauh di atas padang pasir meninggalkan harta dan keluarga. Hijrah tersebut telah berakhir dengan adanya Fathu Mekah, adapun hijrah dari negeri syirik menuju negeri Islam terbuka sampai hari kiamat. Hijrah tidak hanya terjadi apabila berpindah dari suatu tempat ke tempat lain karena hijrah itu terbagi menjadi dua, yaitu hijrah makani (hijrah tempat sebagaimana yang telah dijelaskan di atas) dan hijrah qolbi (hijrah hati, yaitu hijrah dari kemaksiatan menuju keta’atan). Dan hijrah hukumnya wajib sampai hari kiamat, terutama hijrah hati menjauhi maksiat serta mendekati keta’atan.

Perkataan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam (فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ) merupakan kalimat yang menunjukkan sebab dan akibat; asalnya terdiri dari dua kalimat terpisah. Maknanya: Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai niat dan tujuannya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai balasan dan pahalanya. Barangsiapa yang hijrah ke negeri islam karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta untuk belajar agama islam, dan menampakkan agamanya yang tidak bisa ditampakkan di negeri syirik, maka hijrah tersebut merupakan hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya yang sebenar-benarnya. Dan barang siapa yang berhijrah dari negeri syirik menuju negeri islam untuk mencari dunia yang hendak diraihnya atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya tersebut. Pada perkataan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam (إلى ما هَاجَرَ إليهِ) tidak disebutkan tujuan hijrahnya karena hal itu merupakan perkara dunia, dan ini menunjukkan kehinaan perkara dunia.

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam di atasa benar-benar telah terjadi. Contohnya adalah seseorang berhijrah untuk mendapatkan wanita idamannya atau agar orang-orang membeli dagangannya. Maka seseorang yang melakukan niat tersebut hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan, yaitu istri dan harta hasil dagangannya. Orang tersebut sama sekali tidak mendapatkan keridhoan Allah ‘Azza wa Jalla karena bagi Allah dunia tidak lebih berharga dari sayap nyamuk, betapa ruginya orang tersebut na’udzubillahi min dzalik. Maka teruslah memperbaiki niat setiap saat kapan pun dan di mana pun, terlebih apabila merasa niat telah berbelok. Namun jangan pula terayu oleh tipu saya syaithon, yang akan selalu membisikkan hati manusia untuk tidak melakukan suatu amalan, misalnya dengan memberikan waswas, “Jangan melakukannya, nanti riya.” Maka berhati-hatilah dari waswas syaithon, lakukan saja amalan itu dengan niat yang ikhlas karena Allah, dan perangi bisikan syaithon tersebut.

Faidah yang dapat diambil dari hadits tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tidak ada amalan kecuali disertai dengan niat.
  2. Amalan dinilai berdasarkan niatnya. Hal ini merupakan urusan Allah, manusia hanya menilai dari apa yang nampak saja.
  3. Balasan suatu amalan itu sesuai dengan niatnya.
  4. Orang yang berilmu menyebutkan contoh-contoh untuk memberikan penjelasan.
  5. Hijrah memiliki keutamaan karena dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
  6. Manusia mendapatkan pahala, dosa, atau tidak mendapatkan keduanya sesuai dengan niatnya.
  7. Amalan sesuai dengan apa yang menjadi perantara untuk melakukannya. Sesuatu yang mubah dapat berniat keta’atan apabila seseorang meniatkannya untuk kebaikan, seperti makan dan minum agar kuat beribadah.
  8. Suatu amalan yang sama dapat bernilai pahala dan dapat bernilai dosa, tergantung pada niatnya.

Wallahu Ta’ala a’lam..

Bandung, 26 Februari 2020

Penulis: Ummu Hasan
Mahasiswi SF ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Sumber:

  1. Fathul Qawiy al Matiin fii Syarhi al Arba’in wa Tatimmaatu al Khamsiin karya Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad Al-‘Abbaad Al-Badr hafidzahullah cetakan pertama Penerbit Darul Furqon
  2. https://rumaysho.com/16311-hadits-arbain-01-setiap-amalan-tergantung-pada-niat.html
  3. Kajian Hadits Arba’in oleh Ust. Danni Nursalim, Lc hafidzahullah tahun 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *