Muamalah yang Paling Menguntungkan

Muamalah dipakai untuk semua bentuk pergaulan sesama, baik dengan manusia, jual beli dan lain sebagainya, ini adalah muamalah. Dalam bermuamalah kita menunjukkan sikap terbaik seperti ramah tamah, contohnya sales, resepsionis, mereka dilatih untuk bisa bersikap dengan baik. Lalu bagaimana dengan “muamalah dengan orang tua”?

Apakah sama sikap kita yang ramah tamah, anggun, sopan kepada teman itu dengan orang tua kita? Atau malah sebaliknya?

Fenomena di zaman sekarang ini, orang lebih akrab dengan temannya. Namun, sebenarnya siapa yang paling berhak mendapatkan sikap santun itu? Pasti, semua orang mengatakan, “Orang tualah yang berhak mendapatkan itu.” Namun, bukan hanya ucapan semata, tapi perbuatan! Orang tualah yang paling pantas mendapatkan perilaku yang paling sopan dan paling tinggi kedudukannya dari orang di sekitar kita. Orang pertama yang harus dihormati. Cerminan anak yang baik adalah yang bertutur kata dan berperilaku baik. Sebuah musibah saat kita lebih mengedepankan berperilaku baik kepada orang lain terlebih dahulu dibandingkan kepada orang tua kita.

Sa’ad bin Abi Waqqash (salah satu sahabat yang pertama kali masuk islam, yang do’anya tidak tertolak, dan panglima perang yang tidak terkalahkan). Beliau mendapatkan ancaman dari ibunya, agar ia kembali kepada agamanya yang dulu, ibunya bersumpah untuk tidak makan dan minum seumur hidupnya. Sikap Sa’ad tetap santun dan berbakti kepada ibunya, meski ia harus berada di dalam keadaan yang dilematis. Kisah Sa’ad pun dikisahkan di dalam al-Qur’an.

Seorang laki-laki bernama Uwais yang hidup di zaman Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tidak disebut sahabat karena tidak pernah bertemu dengan Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab beliau sibuk mengurus ibunya. Namun, bukan berarti ia kehilangan kemuliaan.

Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda,

“Nanti akan ada laki-laki yang bernama Uwais yang akan mendatangimu, yang apabila ia bersumpah dengan Nama Allah, maka Allah akan memenuhi sumpahnya tersebut. Jika engkau bisa memintakan istighfar kepada Allah untukmu, maka lakukanlah.”

Begitulah kisahnya, yang namanya dikenal di langit, do’anya diijabah namun tidak ada yang mengenalnya di dunia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menyebutkan besarnya keutamaan berbakti kepada orang tua. Bahkan, lebih besar dari jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari sahabat Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلّيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا. قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ

Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Amr, ada seorang pemuda yang siap untuk berjihad, dan ia mendatangi Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasul pun bertanya, “Apakah orang tuamu masih ada?”

“Ya,” jawab pemuda tersebut. Rasul pun berkata, “Maka jihadlah kepadanya!”

Kenapa orang tua kedudukannya sangat tinggi?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah-payah (pula).” [Al-Ahqaf: 15]

Satu kali hentakan nafas seorang ibu takkan mampu kita membalasnya.                 

Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda,

“Seorang anak tidak akan bisa membalas jasa orangtuanya.” [HR. Imam Muslim]

Pulanglah dan buatlah orang tuamu tertawa bahagia, sebagaimana kamu telah membuatnya menangis. Rajin-rajinlah berterima kasih padanya dan do’akan.

Birrul walidain (berbakti kepada orang tua) digandengkan dengan tauhid, dalam rangka menaati perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” [QS. An-Nisa: 36]

Allah Ta’ala juga berfirman,

قُل تَعالَوا أَتلُ ما حَرَّمَ رَبُّكُم عَلَيكُم ۖ أَلّا تُشرِكوا بِهِ شَيـًٔا ۖ وَبِالوٰلِدَينِ إِحسـٰنًا

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua.” [QS. Al An’am: 151]

Dalam ayat ini juga digunakan bentuk kalimat perintah. Allah juga berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” [QS. Al Isra: 23]

Orang tua adalah harta simpanan surga, ridho Allah Ta’ala ada pada ridhonya. Surga di depan mata anda, mau anda buang atau sia-siakan.

Referensi: yufid.com

Penulis: Ummu ‘Abbas
Mahasiswi FTK UNISBA

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *