Mencintai Allah dengan Membaca dan Mentadabburi Al-Qur’an

Mencintai karena Allah merupakan bukti bahwa seseorang telah menjalankan perintah-Nya. Manusia diperintahkan untuk berbuat yang lurus dan berperilaku sesuai dengan kebenaran yang diterimanya sesuai dengan kadar kemampuannya[1]. Saudaraku, tentu saja setiap manusia bahkan makhluk yang lain sekali pun ingin mendapatkan kecintaan Allah ﷻ.

Sebagaimana Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa sebab yang dapat mendatangkan kecintaan Allah ﷻ, salah satunya yaitu membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, memahami Al-Qur’an beserta maknanya. Seseorang memiliki target untuk menambah iman dengan memahami hukum-hukum islam yang ada pada Al-Qur’anul Kariim.

Target yang dimilikinya dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidupnya, yang menjadikan hatinya tenteram, hilang kegundahan dan ketenangan yang ia rasakan saat membaca dan mentadabburinya. Ia memahami bahwa banyak sekali faidah dari Al-Qur’an, sehingga apa yang ia harapkan hanyalah ridho Allah ﷻ serta Surga-Nya yang sangat luas.

Banyaknya keutamaan-keutamaan yang dapat diperoleh, tidak ada darinya mendapatkan kerugian sedikit pun. Bahkan, ganjaran yang sangat menggiurkan yaitu perdagangan yang tidak akan rugi. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

إِنَّ الَّذينَ يَتلونَ كِتـٰبَ اللَّـهِ وَأَقامُوا الصَّلوٰةَ وَأَنفَقوا مِمّا رَزَقنـٰهُم سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرجونَ تِجـٰرَةً لَن تَبورَ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.” (QS. Fathir [35] : 29)

Ini adalah suatu kebahagiaan yang dapat kita raih dengan mudah, senantiasa mengingat Allah ﷻ dengan basahnya lidah, berlinangnya air mata, kerendahan hati serta selalu mengharap petunjuk-Nya di jalan yang lurus.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

Sesungguhnya puncaknya kemuliaan yaitu dengan senantiasa istiqomah.[2]

Jalan lurus yang ditempuh oleh manusia dengan syariat-Nya, berusaha dalam ketaatan di dunia menuju kebahagiaan yang kekal kelak di akhirat.

Wahai saudaraku, dalam mengharapkan kecintaan Allah ﷻ, sudah sewajarnya segala bentuk pengorbanan kita lakukan. Namun, adakalanya di pertengahan jalan kita singgah dalam kelalaian dan menyebabkan hati kita kembali dalam kegundahan. Maka, bersemangatlah kembali kita menghapuskan kegundahan ini dengan banyaknya rasa harap kepada Allah ﷻ, yaitu dengan beristighfar memohon ampun dari dosa serta kesalahan. Sehingga, Allah ﷻ memberikan jalan keluar bagi kita yakni cahaya yang dapat menerangi hati dari gelapnya hiruk pikuk permasalahan yang membuat kita singgah dalam kelalaian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering membaca doa, “Yaa Muqollibal qulub tsabit qolbi ‘ala diinik,” artinya, “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz-Dzahabi)[3]

Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah Allah ﷻ berikan jaminan berupa Syurga sekali pun, tetap memohon agar istiqomah di jalan yang lurus. Ini merupakan keharusan bagi kita sebagai umatnya untuk mengikuti apa yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan, menghidupkan hati kita dengan Sunnah dalam jalan ketaatan sebagai konsekuensi meraih cinta Allah ﷻ.

Saudaraku, demikianlah sedikit yang dapat kami sampaikan sebagai dorongan kuat bagi kita semua untuk meraih cinta Allah ﷻ di dunia dan kelak di akhirat. Semoga Allah ﷻ memberikan keteguhan dalam ketaatan menjalankan syariat-Nya, hingga kelak kematian menjemput kita dalam keadaan beragama islam. Aamiin Yaa Rabbal-‘alamiin.

[Diringkas dari penjelasan Syarah Kitab Tauhid Karya Syaikh At-Tamimi rahimahullah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA hafizhahullah serta beberapa sumber lainnya yang telah di cantumkan dalam artikel ini]

Penulis: Ummu Nufus
Mahasiswi FPTK UPI

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Referensi:
[1] Syarh Riyaadish Shaalihin (1/573-574), karya Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Buku Istiqomah Konsekuen & Konsisten Menetapi Jalan Ketaatan, karya Yazid Bin Abdul Qodir Jawas hafizhahullah hlm. 121 dengan sedikit tambahan.
[2] Istiqamah Konsekuen & Konsisten Menetapi Jalan Ketaatan, karya Yazid Bin Abdul Qodir Jawas hafizhahullah.
[3] Amrullah Akadhinta, ST. 2009. Meniti Jalan Istiqomah. Website Muslim.or.id https://muslim.or.id/507-meniti-jalan-istiqomah.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *