Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Bismilllah, wasshalatu wassalamu ‘ala rasulillah

Di tengah pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini, kaum muslimin memasuki Bulan Ramadhan. Bulan di mana pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan dibelenggu, juga pahala kebaikan pada bulan ini dilipatgandakan. Tentu ini menjadi kabar gembira bagi kaum muslimin dan sudah selayaknya kaum muslimin bergembira dan mengungkapkan kegembiraannya itu dengan berlomba-lomba melakukan amal shalih dan berusaha untuk tidak menyia-nyiakan setiap detiknya.

Salah satu amalan yang disunnahkan untuk memperbanyak melakukannya pada bulan Ramadhan adalah membaca Al-Qur’an. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقرؤوا القرآنَ؛ فإنه يأتي يومَ القيامةِ شفيعًا لأصحابِه

“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi orang-orang yang membacanya.” (HR. Muslim) [1]

Hadits ini merupakan dalil keutamaan membaca Al-Qur’an dan besarnya pahalanya di sisi Allah, yaitu menjadi penolong bagi orang-orang yang membacanya untuk masuk surga.

Dalam hadits yang lain, dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُؤْتَى بالقُرْآنِ يَومَ القِيامَةِ وأَهْلِهِ الَّذِينَ كانُوا يَعْمَلُونَ به تَقْدُمُهُ سُورَةُ البَقَرَةِ، وآلُ عِمْرانَ، وضَرَبَ لهما رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ ثَلاثَةَ أمْثالٍ ما نَسِيتُهُنَّ بَعْدُ، قالَ: كَأنَّهُما غَمامَتانِ، أوْ ظُلَّتانِ سَوْداوانِ بيْنَهُما شَرْقٌ، أوْ كَأنَّهُما حِزْقانِ مِن طَيْرٍ صَوافَّ، تُحاجَّانِ عن صاحِبِهِما

“Didatangkan Al-Qur’an pada hari kiamat bersama ahlinya yaitu orang-orang yang mengamalkannya, mendahuluinya Surah Al-Baqarah dan Surat Ali Imran.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat perumpamaan untuk kedua surat itu dengan 3 perumpamaan yang tidak akan aku (an-Nawwas bin Sam’an) lupakan setelahnya, yaitu, “Seperti dua awan, atau seperti dua naungan hitam yang di antaranya terdapat sinar, atau seperti dua kelompok burung yang berbaris membela sahabatnya.” (HR. Muslim) [2]

Maka hendaklah kita memperbanyak membaca Al-Qur’an, terlebih di bulan yang mulia ini, yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Memperbanyak membacanya di siang dan malam hari, terutama di malam hari ketika kesibukan berkurang, terkumpul keinginan untuk membaca, dan bersatunya hati dan lisan untuk mentadabburinya.

Dan bagi pembaca Al-Qur’an hendaknya beradab dengan adab-adab membaca Al-Qur’an yaitu:

  • Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah
  • Membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci
  • Bersiwak

Hal itu untuk mengagungkan kalamullah.

Hendaknya seseorang melafadzkan bacaannya ketika membaca Al-Qur’an. Adapun jika hanya melihat mushaf maka tidak termasuk membaca. Juga mentadabburi apa yang dibaca, karena itulah tujuan utamanya.

Di antara adab membaca Al-Qur’an adalah bersujud apabila menjumpai ayat sajadah, dalam keadaan wudhu, di setiap waktu.

Saat membaca Al-Qur’an janganlah saling mengeraskan suara karena dapat mengganggu orang-orang yang ada di sekitarnya. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu ia berkata,

اعتَكفَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ في المسجدِ فسمِعَهم يجْهَرونَ بالقراءةِ فَكشفَ السِّترَ وقالَ: ألا إنَّ كلَّكم مُناجٍ ربَّهُ فلا يؤذِيَنَّ بعضُكم بعضًا ولا يرفعْ بعضُكم على بعضٍ في القراءةِ أو قالَ في الصَّلاةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di masjid lalu beliau mendengar orang-orang mengeraskan bacaannya, lalu beliau menyingkap hijab dan berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya setiap kalian sedang bermunajat kepada Rabb-nya, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain, dan jangan meninggikan suara satu sama lain dalam qira’ah atau dalam sholat.” (HR. Abu Daud dan Ahmad) [3]

Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an menjadi penyejuk hati kami, cahaya jiwa kami, pelipur lara kami, penghapus duka kami, petunjuk kepadamu dan kepada surga yang penuh kenikmatan. Ya Allah, ingatkan kami atas apa-apa yang kami lalaikan, ajarkan kami apa-apa yang tidak kami ketahui, karuniakan pada kami membaca apa-apa yang engkau cintai dan ridhoi (Al-Qur’an). Ampuni kami ya Allah, dan kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin.

[Diterjemahkan dari Mukhtashor Ahadist Ash-Shiyam karya Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Bab Hadits Ke-6: Di Antara Keutamaan Tilawah Al-Qur’an dan Adab-Adabnya] dengan penyesuaian.

Bandung, 29 Sya’ban 1441 H

Penulis: Ummu ‘Abdillah
Alumni FMIPA UNPAD
Mahasiswi SITH ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

[1] https://dorar.net/hadith/sharh/26869

[2] https://dorar.net/hadith/sharh/26870

[3] https://dorar.net/hadith/sharh/30415

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *