Lockdown pada Zaman Rasulullah

Menurut kamus Cambridge, lockdown adalah situasi di mana masyarakat tidak diperbolehkan untuk masuk ataupun meninggalkan suatu tempat secara bebas karena suatu keadaan darurat. Saat ini sebagian masyarakat Indonesia sedang menerapkan lockdown karena wabah COVID-19 yang sedang melanda negeri kita. Semoga Allah senantiasa melimpahkan perlindungan dan kesehatan bagi kita semua dan wabah ini bisa berlalu dengan cepat sehingga ummat manusia bisa beraktifitas seperti sedia kala.

Tapi bila kita mengulas kembali sirah nabawiyah, ternyata pada zaman Rasulullah pernah diberlakukan lockdown atau lebih dikenal dengan pemboikotan menyeluruh. Bagaimana kisahnya? Apa yang melatarbelakangi keadaan tersebut? Bagaimana keadaan umat islam saat itu?

Fase Dakwah Terang-Terangan

Dakwah pada zaman Rasulullah terdapat 2 fase yaitu fase sembunyi-sembunyi dan fase terang-terangan. Fase dakwah terang-terangan dimulai ketika turun perintah pertama untuk menampakkan dakwah yaitu Surat Asy-Syu’ara ayat 214:

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,”

Setelah ayat tersebut turun, Rasulullah mengundang kerabat terdekatnya yakni Bani Hasyim untuk menyampaikan dakwah islam. Dimulai dari situ Rasulullah mulai mendakwahkan Islam secara terang-terangan, terutama setelah pamannya yaitu Abu Thalib memberikan perlindungan kepada Rasulullah. Tindakan dakwah terang-terangan ini jelas membuat kaum musyrikin resah sehingga para kaum musyrikin melakukan banyak hal untuk menghalangi dakwah islamiyah. Kaum musyrikin melakukan berbagai penindasan, penghinaan, serta mencemarkan ajaran yang Rasulullah bawa. Rasulullah serta para sahabatnya dilecehkan. Sebut saja Utsman bin Affan yang digulung oleh pamannya ke dalam tikar lalu diasapi dari bawahnya, kemudian keluarga Yasir, dan banyak sahabat Rasulullah lainnya yang mendapatkan penyiksaan.

Rasulullah saat itu tidak mendapatkan siksaan yang demikian. Rasulullah adalah orang yang terhormat dan dilindungi oleh pamannya yakni Abu Thalib. Sehingga utusan Quraisy mengultimatum Abu Thalib agar tidak lagi melindungi keponakannya. Namun di tengah penindasan yang dilakukan oleh kaum musyrikin, terdapat peristiwa masuk Islamnya dua orang yang sangat terhormat di kalangan kaum Quraisy yakni Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab. Juga semakin hari semakin banyak orang yang menerima ajaran Islam sehingga jumlah kaum muslimin bertambah dan ajaran Islam semakin tersebar. Tetapi hal tersebut tidak lantas menghentikan siksaan yang dilakukan oleh kaum musyrikin. Justru berbagai pelecehan semakin dilakukan oleh kaum musyrikin terhadap kaum muslimin karena kaum musyrikin jelas membenci keadaan di mana dakwah Islam tersebar.

Perjanjian yang Zhalim

Setelah melakukan berbagai cara untuk menghabisi Rasulullah serta ajaran yang dibawanya, kepanikan kaum musyrikin mencapai puncaknya. Segala ancaman, teror, penindasan nyatanya tidak membuat kaum muslimin gentar. Akhirnya para kaum musyrik Quraisy berkumpul di kediaman Bani Kinanah dan bersumpah untuk tidak menikahi Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib, tidak berjual-beli dengan mereka, tidak bergaul, berbaur, memasuki rumah-rumah mereka serta tidak berbicara dengan mereka hingga mereka menyerahkan Rasulullah untuk dibunuh. Perjanjian tersebut dituangkan di sebuah lembaran (shahifah).

Kenapa Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib yang diboikot? Karena Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib melindungi Rasulullah dari pihak yang hendak membunuh beliau serta memasukkan Rasulullah ke pemukiman mereka. Seluruh Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib membela Rasulullah kecuali Abu Lahab. Melihat keadaan tersebut maka kaum Quraisy khususnya menerapkan perjanjian zhalim tersebut.

Shahifah tersebut digantung di sisi Ka’bah. Akhirnya Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib yang telah memeluk ajaran Islam tertahan di celah bukit milik Abu Thalib pada malam pertama bulan Muharram pada tahun ke-7 nubuwwah (kenabian). Dan ada beberapa riwayat yang menyebutkan selain tanggal tersebut.

Kesulitan Semasa Pemboikotan

Bani Hasyim dan Bani Muthalib tertahan di celah bukit milik Abu Thalib dengan perbekalan yang terbatas. Sementara kaum musyrikin Quraisy tidak membiarkan adanya jual-beli terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib hingga perbekalan mereka pun habis. Keadaan ini menjadikan mereka akhirnya terpaksa memakan daun-daunan dan kulit-kulit. Tidak ada barang yang sampai ke tangan mereka kecuali diserahkan dengan sembunyi-sembunyi karena dilarang oleh kaum musyrikin. Dan yang terboikot di celah bukit tersebut juga tidak dapat keluar untuk mencari kebutuhan mereka kecuali pada bulan yang diharamkan berperang di dalamnya, namun harga barang yang mereka beli juga sangatlah tinggi. Kaum musyrikin sengaja menaikkan harga barang agar mereka tidak dapat membelinya.

Kaum muslimin yang berada di celah bukit tersebut tidak dapat meninggalkan tempat, sekalipun sangat mendesak. Bahkan dikabarkan bahwa Hakim bin Hizam pernah membawa makanan untuk Khadijah yakni bibinya namun tertahan oleh Abu Jahal. Namun Abul Bukhturi menengahi dan membuat Hakim lolos membawa makanan tersebut kepada Khadijah.

Pembatalan Perjanjian

Peristiwa pemboikotan tersebut berlangsung selama 3 tahun dan ada riwayat lain yang menyebutkan selain itu. Pada bulan Muharram tahun 10 kenabian, terjadi pembatalan terhadap lembaran perjanjian yang ditempel di sisi Ka’bah tersebut. Pembatalan ini terjadi karena tidak seluruh kaum Quraisy setuju dengan isi shahifah tersebut.

Saat itu, paman Nabi yang bernama Abu Thalib tengah duduk di sudut Masjidil Haram. Beliau datang atas pemberitahuan Rasulullah bahwa Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah mengenai shahifah tersebut. Allah telah mengirimkan rayap-rayap untuk memakan lembaran tersebut kecuali bagian yang terdapat nama Allah di dalamnya.

Kejadian ini memberikan dampak batalnya perjanjian yang penuh kezhaliman tersebut sehingga Rasulullah beserta orang-orang yang berada di celah bukit milik Abu Thalib bisa keluar dan menjalani kehidupan seperti sedia kala.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Sungguh kisah ini merupakan kisah yang penuh pelajaran khususnya bagi kaum muslimin saat ini. Di antara pelajaran yang dapat diambil adalah:

  1. Peristiwa ini menunjukkan kesabaran dan ketabahan kaum muslimin di tengah siksaan yang diberikan oleh musuh Allah dalam memperjuangkan agama Islam. Kaum muslimin saat itu diuji dengan kelaparan yang sangat dan diasingkan dari masyarakat, namun mereka bersabar dan tidak meninggalkan agama Allah.
  2. Bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu nyata kepada orang-orang yang berpegang teguh kepada kebenaran. Dan kebatilan itu pasti akan terbantahkan dengan izin Allah. Sebagaimana firman Allah pada Surat Al-Isra ayat 81:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

  1. Selalu akan ada pihak yang membenci ketika dakwah Islam menyebar dengan cepat dan luas. Kebencian itu akan melahirkan tindakan-tindakan yang merugikan kaum muslimin dengan tujuan agar meredupkan dakwah Islam. Namun sebagai seorang mukmin hendaknya kita tidak gentar dengan ancaman dan kebencian tersebut karena agama Islam adalah agama yang haq.
  2. Salah satu bentuk perang adalah dengan perang ekonomi yakni dengan tidak adanya transaksi jual beli. Ini jelas sangat merugikan karena kebutuhan kita tidak lepas dari transaksi jual beli.

Semoga kisah ini menjadikan kita terus semangat dalam membela agama Allah meskipun dalam keadaan sulit sekalipun. Wallahu a’lam.

Tangerang Selatan, 15 April 2020

Ummu Sauda
Mahasiswi STEI ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Referensi:

  1. https://almanhaj.or.id/1942-kaum-musyrikin-quraisy-melancarkan-pemboikotan.html
  2. https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/lockdown
  3. https://rumaysho.com/19309-faedah-sirah-nabi-pelajaran-dari-pemboikotan-dari-orang-quraisy.html
  4. https://firanda.com/2523-sirah-nabi-23-mulai-dakwah-secara-terang-terangan.html
  5. http://tanzil.net/
  6. Perjalanan Hidup Rasul yang Agung (Terjemah dari kitab Rahiq al-Makhtum). Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit Darul Haq, Cetakan ke XIV, Juli 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *