Lapar: Nikmat yang Tidak Disadari

Lapar, mungkin setiap orang ingin segera menghilangkan rasa ini ketika ia mulai datang. Makanan langsung dicari untuk menghilangkannya sesegera mungkin lalu hilanglah rasa lapar itu. Namun sesungguhnya rasa lapar itu dapat membawa nikmat.

Rasa lapar dapat meningkatkan keimanan seseorang. Ketika perut dalam keadaan kosong, tubuh terasa ringan untuk mengerjakan berbagai kegiatan, termasuk mengerjakan ibadah. Selain itu, perut yang lapar dapat membuat diri lebih fokus dalam mengingat Allah. Makan merupakan salah satu kesenangan duniawi. Jika seseorang terbuai oleh kesenangan duniawi, hati akan lalai dari memikirkan hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Maka dengan kosongnya perut, hati akan semakin lembut dan semakin mudah untuk tafakkur dan berdzikir pada Allah.

Rasa lapar merupakan ujian yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَٰلِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّٰبِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Maksud dari ayat tersebut adalah kelaparan, kehilangan harta, jiwa dan buah-buahan merupakan perkara yang pasti Allah ujikan kepada hamba-hamba-Nya. Barang siapa bersabar dan berserah diri, maka Allah akan memberikan pahala. Sebaliknya, barangsiapa yang berputus asa, Allah akan menyiksanya [1].

Lapar juga dapat membuat seseorang dapat lebih banyak merenungi nikmat yang telah Allah berikan padanya. Ketika seseorang merasakan lapar, maka dia dapat mensyukuri nikmat makanan yang telah Allah berikan pada dirinya sehingga dapat mengeluarkannya dari kelaparannya dan menjadikannya kenyang. Seseorang juga dapat lebih mengerti bagaimana sengsaranya orang fakir yang kelaparan sehingga dapat lebih berempati dan membuat diri lebih ringan untuk menyisihkan hartanya untuk membantu saudara yang membutuhkan bantuan.

Namun perlu diperjelas lagi, lapar apa yang dapat membawa kenikmatan. Manusia diberi akal pikiran untuk dapat merenungkan apa yang terjadi. Ketika manusia dapat lebih banyak merenungi kebesaran Allah dan melakukan ketaatan dalam keadaan lapar, maka lapar inilah yang membawa nikmat. Jika dalam keadaan lapar menjadi alasan untuk bermalas-malasan dan malah melakukan hal yang sia-sia, maka inilah lapar yang tidak membawa kenikmatan.

Rasa lapar berkaitan dengan ibadah puasa. Ibadah puasa merupakan ibadah yang dilakukan dengan menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Namun rasa lapar yang ditahan selama hampir seharian ini ternyata bisa sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur lagi membawa berita yang benar,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” [2]

Penyebab puasa menjadi sia-sia adalah berkata dusta [3], berkata sia-sia [4], dan melakukan maksiat [5].

Semoga kita dapat memanfaatkan momen menahan lapar pada bulan Ramadhan ini dengan ketaatan pada Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu musta’an.

Bandung, 5 April 2020

Penulis: Ummu Dzaki
Mahasiswi FTSL ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

—-

[1] Tafsir Ibnu Katsir

[2] (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi – yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).

[3] HR. Bukhari no. 1903

[4] HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih.

[5] Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah

https://rumaysho.com/482-hikmah-di-balik-puasa-ramadhan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *