Kunci Berdakwah pada Keluarga: Jangan Beri Mereka Dalil Sebelum Akhlak Baikmu

Sungguh suatu kenikmatan yang besar telah Allah berikan kepada hamba-Nya, yaitu nikmat agama Islam serta pemahaman yang lurus. Sebagaimana yang kita ketahui, agama Islam merupakan agama yang Allah ridhoi, yang tidak ada satu pun agama selain Islam akan diterima oleh Allah. Sebagaimana firman Allah berikut

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّـهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” [QS. Ali Imran: 19]

Perlu kita sadari bahwa kita sangatlah membutuhkan hidayah tersebut atas diri kita. Dengan hidayah dari Allah lah kita dapat selamat baik di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang Allah mudahkan dalam meraihnya, maka sungguh ia sangatlah beruntung. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk memohon kepada Allah Ta’ala agar senantiasa diberi hidayah dan taufiknya. Dalam hadits Qudsi yang shahih, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian.” HSR Muslim (no. 2577)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang senantiasa memberikan nikmat Islam sedari kita dilahirkan di dunia ini. Selain itu, kita pun diberi nikmat pemahaman Islam yang lurus sesuai dengan pemahaman salafush-shalih. Kita patut bersyukur atas kedua nikmat tersebut, dan juga berdo’a dan berusaha untuk selalu menjaganya.

Hidayah merupakan nikmat Allah yang agung, dan hanya dapat kita raih atas kehendak Allah. Kita sebagai manusia tidak dapat memberikan hidayah tersebut kepada siapa pun yang kita hendaki. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak dapat memberikannya.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Dalam ayat tersebut Allah mengingkari bahwa hidayah (taufik) datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, Allah menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kepada jalan yang lurus, dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syuuraa: 52)

Namun, ada sebagian dari kita yang terlahir dari keluarga yang belum memahami Islam dengan pemahaman yang lurus. Sedangkan kita mengetahui urgensi hidayah bagi setiap manusia, maka tentu ada kekhawatiran yang datang menyelimuti diri tatkala melihat keluarga yang kita sayang masih jauh dari ajaran agama yang lurus. Ketika kita dapat merasakan manisnya iman di atas pemahaman yang lurus ini, tentu ada keinginan kita untuk membagikannya kepada orang lain. Maka hal yang dapat kita lakukan adalah dengan mendakwahkan kepada mereka kepada agama yang lurus, yaitu Islam dengan pemahaman para shahabat.

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’araa’: 214)

Dalam berdakwah kepada keluarga, kita memerlukan kiat-kiat khusus. Karena orang yang kita hadapi merupakan orang terdekat kita yang mengetahui seluk beluk diri kita. Sering kali, ketika seseorang hijrah dan mulai mengamalkan sunnah, ia justru tidak mendapat dukungan dari keluarganya sendiri. Hal tersebut dapat dikarenakan keluarganya tidak yakin atas perubahan yang dilakukannya. Selain itu, ketika mereka diberitahu akan kebenaran sering kali pula mereka menolak. Ini disebabkan karena mereka merasa lebih dan kita tidaklah lebih baik dari mereka. Maka diperlukan kiat-kiat tertentu dalam menghadapi hal tersebut.

Perlu kita sadari, bahwa keluarga kita mungkin belum memiliki dasar agama yang kuat, seperti ilmu tauhid dan aqidah yang lurus. Sehingga mereka cenderung akan menolak ketika kita mendakwahkan mereka kepada kebenaran. Ada baiknya kita mendakwahkan mereka kepada tauhid dan aqidah terlebih dahulu sebelum memberi mereka dalil-dalil syar’i tentang hukum suatu perkara. Namun, jauh sebelum itu ada hal yang lebih utama, yaitu tunjukkanlah akhlak yang terpuji kepada mereka. Tidak peduli bagaimana mereka memandang remeh dirimu ketika hijrah menuju sunnah, tetaplah berbuat baik kepada mereka, tunjukkanlah akhlak yang mulia terlebih mereka adalah keluargamu.

Sering kali, kita yang telah mengenal sunnah memiliki adab yang kurang baik dalam bergaul. Seperti contoh, ketika orang lain melakukan hal yang dilarang lantas kita dengan serta merta memberi mereka dalil tentang keharaman hal tersebut dengan cara yang kurang baik seolah-olah langsung memvonis mereka bersalah. Ketahuilah, bahwa akhlak yang baik merupakan salah satu kunci suksesnya dakwah. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdakwah dengan kesabaran dan kelembutan. Tidak dipungkiri lagi bahwa keberhasilan dakwah beliau selain karena karunia Allah, juga karena mulianya akhlak beliau. Beliau tidak hanya berdakwah dengan lisan, namun juga dengan contoh perbuatan dan akhlaknya yang mulia. Akhlak beliau begitu agung, sebagaimana firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Ketika orang tua maupun keluarga kita belum memahami ilmu agama dengan baik, maka hendaklah kita berhati-hati dalam menyampaikan ilmu kepada mereka. Tetaplah bersikap hormat, terlebih kepada orang tua kita. Bagaimanapun mereka begitu berjasa dalam hidup kita. Orang tua memiliki rasa sungkan yang besar ketika mendapat nasihat dari anaknya. Bagaimanapun mereka adalah orang yang membesarkan kita dari kecil, sehingga mereka tahu seluk beluk diri kita. Sebagai orang tua, mereka tidak ingin diberi dalil, mereka hanya butuh pembuktian dari akhlak dan kepribadianmu. Maka janganlah menunjukkan bahwa kita lebih berilmu dari mereka, cukup berperilakulah yang baik, dan tetap hormat kepada mereka. Tunjukan bahwa kita sudah tidak seperti dulu lagi, tunjukkan bahwa kita telah berubah kepada kebaikan.

Akhlak yang baik sejatinya adalah cerminan dari ilmu yang telah kita peroleh. Ketika kita menunjukkannya, hal tersebut dapat meyakinkan keluarga kita bahwa apa yang telah kita pelajari merupakan suatu kebaikan pula. Hal ini dapat memikat hati mereka dengan harapan mereka mulai mencari tahu tentang apa yang telah kita pelajari. Pandai-pandailah kita dalam memikat hati mereka, tetap sabar dalam menghadapi kebodohan mereka atas ilmu agama. Sabar, apabila mereka cenderung bersikeras dengan pendapat mereka. In syaa Allah seiring dengan waktu mereka akan luluh dengan perilaku baik dari kita.

Keluarga memang sering kali menjadi medan dakwah terberat bagi kita, namun hendaknya kita tetap mendakwahkan mereka kepada kebaikan. Karena merekalah yang lebih pantas kita dakwahkan terlebih dahulu. Tentu kita tidak ingin mereka berlarut-larut dalam gelapnya kebodohan akan agama yang haq. Maka jangan pernah lelah dalam menunjukkan kebaikan pada mereka, tetaplah bersabar ketika mendapat celaan, in syaa Allah. Dan tetaplah berdo’a kepada Allah, semoga Allah Ta’ala melembutkan hati mereka, dan juga memberikan kita sekeluarga hidayah serta taufiknya. Aamin yaa mujibas-saailiin.

Hadanallah wa iyyakum ajma’in.
Baarakallahu fiikum.

Bandung, 11 Sya’ban 1441 H (5 April 2020)

Penulis: Ummu Hafshah
Mahasiswi FMIPA ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Referensi:
1. https://muslim.or.id/47167-memprioritaskan-dakwah-kepada-keluarga-terdekat.html
2. https://muslim.or.id/27839-kita-sangat-membutuhkan-hidayah-allah.html
3. https://muslim.or.id/28401-hidayah-adalah-sebaik-baik-nikmat-allah-taala.html
4. https://muslim.or.id/27847-sebab-datang-dan-hilangnya-hidayah-allah-2.html
5. http://tanzil.net/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *