Kuliah Ilmu Dunia di Kampus Terkurikulum, Bagaimana dengan Ilmu Syar’i?

Keberhasilan seorang pelajar, setelah taufiq dari Allah, ditentukan oleh kesungguhan belajarnya dan program belajar yang tepat. Betapa banyak orang sukses yang telah menempuh program pendidikan di kampusnya, dimulai dari ia menjadi mahasiswa baru di semester satu hingga lulus wisuda bahkan melanjutkan studi S2 dan S3. Semua itu diraih untuk demi mendapatkan ilmu pada bidangnya masing-masing.

Lalu apa kabar wahai saudaraku muslimah dengan program belajar ilmu syar’i yang engkau raih? Apakah sudah terkurikulum layaknya program pendidikan di kampusmu? Sedikit dari para penuntut ilmu yang mau dan mampu secara sabar untuk terus belajar mulai dari dasar hingga tingkat atas. Kebanyakan dari mereka tidak sabar, lalu berhenti di tengah jalan.

Selain semangat yang kita butuhkan dalam menuntut ilmu, kita pun harus menuntut ilmu secara terstruktur dan terkurikulum. Jangan sampai kita hanya menjadi pecinta ilmu yang hanya mengikuti seluruh kajian tematik dan tabligh akbar tanpa memperhatikan program belajar ilmu syar’i yang terstruktur.

Berikut dipaparkan tips program belajar yang bisa kita lakukan dalam perjalanan kita menuntut ilmu syar’i.

1. Membagi program belajar menjadi dua bagian, yaitu:

  • Program harian = membaca dan murajaah al-Qur’an satu juz atau beberapa baris sesuai kemampuan lalu menghafal 5 baris Al-Qur’an.
  • Program pekanan = membuat program rutin dalam mengkaji bidang ilmu syar’i, seperti:
    • Ahad = Bahasa Arab
    • Senin = Tauhid
    • Selasa = Adab
    • Rabu = Hadist
    • Kamis = Tafsir
    • Jumat = Fiqih
    • Sabtu = Tajwid

2. Hendaknya seorang pelajar menyediakan waktu khusus untuk menjalankan program harian dan pekanan yang ada. Di antara waktu-waktu yang dianjurkan adalah setelah shalat subuh dan shalat ashar.

3. Minimal menjalankan program harian selama satu jam per hari. Satu jam yang kita gunakan dapat menghasilkan faidah yang banyak dan juga keberkahan. Berazamlah untuk melakukannya karena satu jam hanyalah sedikit dibandingkan dengan jam kuliah kita yang sangatlah memakan banyak waktu.

4. Bertahap dalam belajar. Dimulai dari kitab yang dasar hingga lanjutan. Tidak selayaknya berpindah ke tingkat selanjutnya kecuali telah sempurna membaca dan memahami secara sempurna tingkat sebelumnya.

5. Tidak dipekenankan mencampuradukkan kitab dasar dan kitab lanjutan untuk dipelajari. Semua harus dilakukan sesuai dengan tahapannya masing-masing.

6. Tidaklah disebut penuntut ilmu jika ia tidak memiliki kitab. Maka kumpulkan dan pelajarilah kitab yang akan dikaji.

7. Semua program yang dijalani sangat baik jika dijalankan dengan bimbingan seorang guru, atau jika tidak dengan seorang teman, atau jika tidak memungkinkan maka dengan mendengarkan kajian-kajian para ulama dengan tetap bersemangat dalam menelaah ketika mendengarkan rekaman tersebut. Satu hal yang perlu dicatat oleh seorang penuntut ilmu adalah agar ia menjauhkan diri dari berkata tanpa ilmu.

8. Tetap menjaga hubungan baik dengan para ulama, sehingga tetap bisa bertanya kepada mereka tatkala mengalami kendala dalam belajar, senantiasa memuliakan mereka, mengambil faidah dari nasehat-nasehat mereka, serta merendahkan diri di hadapan para ulama. Kita memohon kepada Allah agar senantiasa mengaruniakan diri kita sikap lemah lembut.

Tentunya semua ini dilakukan dengan niat yang lurus, berdoa memohon kemudahan kepada Allah, dan senantiasa bersabar dan bersemangat dalam menjalankan program, karena pastinya banyak kendala dan ujian yang akan menghampiri kita dalam perjalanan menuntut ilmu.

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

Baarakallahu fiikum

11 Sya’ban, 1441

Penulis : Ummu Sufyan
Mahasiswi FPTK UPI

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Referensi: Buku Lentera Penuntut Ilmu, karya Abu Umar Usamah bin Athaya, cetakan 2015, penyunting: Tim Udrussunnah Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *