Kisah di Balik Hadits Jibril: Rukun Iman

Hadits tentang datangnya malaikat Jibril yang diriwayatkan dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu merupakan hadits yang sangat agung karena di dalamnya terkandung pondasi-pondasi dalam beragama. Pondasi-pondasi tersebut adalah islam, iman, dan ihsan. Hadits ini juga mencakup seluruh aspek ibadah baik yang zhahir maupun bathin. Agar kita dapat tegak di atas agama Allah ‘azza wa jalla, maka kita harus mengokohkan pondasi-pondasi tersebut dengan cara mempelajari ilmunya dan mengamalkannya di dalam kehidupan. 

Hadits Jibril ini merupakan hadits kedua yang tertulis dalam Hadits Arbain An-Nawawiyah karya Imam Nawawi rahimahullah. Sebelumnya telah dibahas kandungan hadits ini tentang rukun islam. Selanjutnya akan dibahas mengenai kandungan dari rukun iman. Rukun iman yang enam telah kita hafal sedari kecil, namun apakah kita benar-benar telah memahami kandungan dari keenam rukun iman tersebut dan mengamalkannya ? Simak penjelasan berikut..

Dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

قَالَ: صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّه

“Orang itu berkata, “Engkau benar.” Kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Iman.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Orang tadi berkata, “Engkau benar.”” (HR. Muslim No. 8)

TAKJUBNYA PARA SAHABAT

Perkataan ((قَالَ: صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ)) menunjukkan takjubnya para sahabat terhadap orang yang bertanya karena umumnya orang yang bertanya tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan. Namun dalam hadits ini orang yang bertanya membenarkan jawaban dari orang yang ditanya menunjukkan orang yang bertanya tersebut telah mengetahui jawabannya. Oleh karena itu para sahabat takjub dengan pembenaran dari orang yang bertanya karena itu merupakan hal yang tidak biasa.

RUKUN IMAN

Pada perkataan:

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّه

terdapat jawaban yang mencakup keenam rukun iman yang wajib diketahui oleh seluruh muslim dan muslimah.

1. IMAN KEPADA ALLAH

Rukun iman kepada Allah ‘azza wa jalla merupakan pondasi dari seluruh rukun iman. Barang siapa yang tidak beriman kepada Allah ‘azza wa jalla maka ia tidak mengimani lima rukun lainnya. Dan iman kepada Allah mencakup keberadaan-Nya, rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, serta seluruh nama dan sifat-Nya. Maka wajib bagi kita untuk mentauhidkan Allah ‘azza wa jalla dengan rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, dan nama-nama serta sifat-sifatnya.

Tauhid dengan rububiyah berarti mengakui bahwasanya Allah ‘azza wa jalla satu-satunya zat yang berkaitan dengan perbuatan Allah, tidak ada tandingan bagi-Nya dalam perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Perbuatan Allah yang tidak ada tandingan bagi-Nya meliputi menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, mengatur setiap urusan, mengatur alam semesta, dan perbuatan lainnya yang berkenaan dengan rububiyah Allah.

Tauhid uluhiyah berarti mentauhidkan Allah ‘azza wa jalla dengan perbuatan hamba, seperti berdo’a, tawakkal, isti’anahisti’adzah, menyembelih, nadzar, dan ibadah lainnya yang wajib diberikan untuk Allah semata. Maka tidak boleh ibadah tersebut diberikan kepada selain Allah meskipun kepada nabi dan rasul.

Adapun tauhid dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla adalah menetapkan seluruh nama dan sifat Allah yang telah Allah dan rasul-Nya terangkan. Nama dan sifat tersebut telah sesuai dan layak dengan kesempurnaan dan keagungan Allah, maka tidak boleh bagi kita untuk melakukan takyif (membagaimanakan), tamtsil (menyerupakan), tahrif (menyelewengkan), ta’wil (menakwilkan), ataupun meniadakan nama dan sifat Allah tersebut. Kita pun wajib mensucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada yang semisal dengan Allah. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro’: 11)

2. IMAN KEPADA MALAIKAT

Iman kepada malaikat berarti mengimani bahwasannya malaikat adalah makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya. Mereka memiliki banyak sayap sebagaimana dalam ayat pertama surat Al-Fatir. Jumlah malaikat sangat banyak, tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah ‘azza wa jalla. Ketika mengisahkan tentang isra’ mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ، يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ

“Ini adalah Baitul Makmur, setiap hari, tempat ini dikunjungi 70.000 malaikat untuk melakukan shalat di sana. Setelah mereka kaluar, mereka tidak akan kembali lagi ke tempat ini.” (HR. Bukhari No. 3207 & Muslim No. 162)

Malaikat memiliki tugas yang berbeda-beda, di antaranya menyampaikan wahyu, menurunkan hujan, mencabut nyawa, menjaga surga, menjaga neraka, dll. Malaikat sangat ta’at kepada Allah, selalu melaksanakan perintah Allah, dan tidak pernah berbuat maksiat. Kita wajib mengimani dan percaya terhadap seluruh malaikat yang dikabarkan dalam Al-Qur’an dan hadits shohih baik yang namanya diketahui (Jibril, Mikail, Isrofil, Malik, Munkar, dan Nakir) ataupun yang tidak diketahui.

3. IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

Iman kepada kitab-kitab Allah berarti percaya dan mengakui seluruh kitab-kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada utusan-Nya serta meyakini kebenaran kitab-kitab tersebut. Bahwasanya kitab-kitab yang diturunkan Allah bukan merupakan makhluk. Di dalam kitab tersebut mencakup kebahagiaan, barang siapa yang mengambil ilmu darinya maka akan selamat dan barang siapa yang berpaling darinya maka akan tersesat. Kita wajib mengimani seluruh kitab Allah baik yang disebutkan namanya dalam Al-Qur’an (taurat, injil,  zabur, shuhuf nabi Ibrahim, dan shuhuf nabi Musa) dan yang tidak disebutkan namanya.

4. IMAN KEPADA RASUL-RASUL ALLAH

Iman kepada rasul-rasul Allah berarti percaya dan mengakui bahwa Allah ‘azza wa jalla memilih rasul dan nabi dari kalangan manusia yang bertugas untuk memberi petunjuk menuju kebenaran kepada manusia dan mengeluarkan kegelapan (kesyirikan, kekufuran) menuju cahaya (tauhid, keimanan). Terdapat 25 rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan ada pula yang tidak disebutkan, kita wajib mengimani seluruhnya. 

Rasul adalah orang-orang yang bertugas untuk menyampaikan syari’at yang turun kepadanya, sedangkan nabi adalah orang-orang yang diberi wahyu dan bertugas untuk menyampaikan syari’at yang telah turun sebelumnya. Lalu apakah tugas kita? Tugas kita adalah menerima dan menyampaikan syari’at Rasul. Sebagaimana Imam Az-Zuhri mengatakan, “Allah menurunkan risalah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk disampaikan dan tugas kita adalah menerima.” Rasul dan nabi Allah telah menyampaikan seluruh syari’at secara sempurna, tidak ada sedikit pun yang disembunyikan. Tidak boleh bagi kita memodifikasi, mengurangi, atau menambahkan syari’at tersebut.

5. IMAN KEPADA HARI KIAMAT

Iman kepada hari kiamat berarti percaya dan mengakui semua yang terjadi setelah kematian yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah. Allah ‘azza wa jalla menjadikan 2 negeri, yaitu negeri dunia dan negeri akhirat, pemisah di antara keduanya adalah kematian dan hembusan pertama pada hari kiamat yang menyebabkan kematian seluruh makhluk. Setiap orang yang telah mengalami kematian maka telah datang kiamat untuknya.

Hakikat kematian adalah seseorang berpindah dari negeri amal ke negeri pembalasan. Barang siapa yang beramal kebaikan di dunia maka Allah akan berikan balasan berupa nikmat kubur dan nikmat surga, adapun orang yang beramal keburukan maka Allah akan berikan adzab kubur dan adzab neraka untuknya.

6. IMAN KEPADA TAKDIR ALLAH

Iman kepada hari takdir Allah berarti mengimani bahwa Allah menetapkan semua yang terjadi sampai hari kiamat. Takdir Allah memiliki 4 tingkatan:

  1. Allah mengetahui sejak dahulu (azali) tentang segala sesuatu yang terjadi dan tidak terjadi.
  2. Allah menuliskan takdir 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.
  3. Allah mengehendaki seluruh yang ditakdirkan.
  4. Allah menciptakan dan mengadakan semua yang ditakdirkan sesuai dengan apa yang Allah ketahui, tuliskan, dan kehendaki.

Wajib bagi kita untuk mengimani tingkatan-tingkatan tersebut serta meyakini bahwa segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi dan yang Allah tidak kehendaki tidak akan terjadi. Sebagaimana hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَم يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ

“Ketahuilah, bahwa apa saja yang luput darimu, maka tidak akan pernah menimpamu. Dan apa yang menimpamu, maka tidak akan pernah luput darimu.” (HR. Tirmidzi No. 2516)

Semoga Allah ‘azza wa jalla teguhkan hati kita di atas keimanan.

اَللَّهُمَّ يا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِينِكَ

“Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (HR. Muslim No. 2654)

Wallahu ta’aala a’lam

Sya’ban 1441 H

Penulis: Ummu Hasan
Mahasiswi SF ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Fathul Qawiy al Matiin fii Syarhi al Arba’in wa Tatimmaatu al Khamsiin karya Syaikh ’Abdul Muhsin bin Hamad Al ’Abbaad Al Badr hafidzahullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *