Kiat agar Teratur dalam Berteman dan Bertamu

Persahabatan yang baik memiliki sejumlah sifat terpuji yang kebaikannya dirasakan oleh orang yang berinteraksi dengannya dan mengambil akhlaknya yang mulia, jauh dari sikap berlebihan dan perasaan yang terlalu dalam. Sebagian rambu-rambu penting dalam persahabatan yang menjadikan kehidupan dan fikiran pelakunya teratur dan disiplin. Perhatikan rambu-rambu berikut ini:

1. Jalinlah persahabatan dan pergaulan sesuai dengan manhaj Islam, dan hal itu hanya akan terwujud jika kamu sepakat dengan teman atau orang yang kamu pergauli untuk berpegang kepada syari’at Allah Ta’ala dan mengembalikan segala urusan kepada petunjuk Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah telah mengisyaratkan hal ini melalui sabda beliau, “Dan dua orang yang saling cinta karena Allah, mereka jumpa karena-Nya dan pisah karena-Nya.” Yakni keduanya sepakat saat berumpa untuk iltizam kepada syari’at Allah sebagaimana juga saat berpisah.

Abu Dawud dan Tirmidzi rahimahullah telah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berpesan, “Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang mukmin dan janganlah ada yang makan bersamamu kecuali orang yang bertakwa.”

2. Hindarilah pelaku bid’ah. Karena ahlussunnah sepakat untuk menghinakan, mengabaikan dan menjauhi ahli bid’ah serta tidak berteman dengan mereka, bahwa dengan menghindari mereka merupakan taqarrub kepada Allah Ta’ala. Dalam beberapa tempat di kitab Al-Aqidah, Imam Ash-Shabuni rahimahullah telah menegaskan hal itu.

3. Berpalinglah dari orang-orang bodoh yang bicara tentang Al-Qur’an dan Sunnah tanpa ilmu dan tanpa hidayah. Seperti diingatkan oleh Allah Ta’ala,

وَإِذا رَأَيتَ الَّذينَ يَخوضونَ فى ءايـٰتِنا فَأَعرِض عَنهُم حَتّىٰ يَخوضوا فى حَديثٍ غَيرِهِ ۚ وَإِمّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيطـٰنُ فَلا تَقعُد بَعدَ الذِّكرىٰ مَعَ القَومِ الظّـٰلِمينَ

“Dan Apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” [QS. Al-An’am 6: 68]

Dalam kitab Al-Ibanah, Ibnu Batthah rahimahullah berkata, “Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya aku berfikir tentang sebab yang menjadikan suatu kaum keluar dari sunnah dan jama’ah, kemudian masuk ke lingkaran bid’ah dan keburukan yang membuka pintu bencana bagi hati mereka. Sementara cahaya kebenaran tertutup dari mata hatinya. Ternyata aku dapati hal itu melalui dua jalan. Pertama adalah sering debat, banyak tanya tentang hal yang tidak berguna, kebodohannya tidak berbahaya bagi yang berakal dan pemahamannya tidak bermanfaat untuk yang beriman. Kedua adalah bergaul dengan orang yang ditakuti fitnahnya dan yang berteman dengannya dapat merusak hati.”

4. Bergaul dengan orang lain adalah suatu keharusan bagi manusia.

Tetapi seperti telah dikemukakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, “Seorang hamba sebaiknya mendapatkan manfaat (keuntungan) dari pergaulan dan persahabatannya.” Ibnul Qayyim membagi manusia menjadi empat kelompok, barangsiapa yang tidak selektif, maka ia akan mendapat kerugian atau keburukan dari pergaulannya;

a. Orang yang dipergaulinya seperti makanan yang dibutuhkan siang malam. Jika keperluanmu telah terpenuhi, kamu meninggalkan lalu menemuinya lagi untuk suatu keperluan. Begitulah seterusnya. Mereka adalah para ulama yang mengetahui betul tentang Allah Ta’ala, tentang tipuan musuh-Nya dan tentang berbagai penyakit hati, dan mereka memberi nasehat tentang Allah Ta’ala, tentang kitab-Nya, tentang Rasul-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Bergaul dengan orang seperti ini (para ulama) mendatangkan manfaat yang sangat besar.

b. Orang yang dipergaulinya bagaikan obat. Ia dibutuhkan saat kamu sakit, dan selama kamu sehat kamu tidak membutuhkannya. Kamu yang butuh mempergaulinya untuk kemashlahatan hidup seperti untuk dimintai pendapat, untuk mu’amalah (transaksi) dan sejenisnya. Jika kebutuhanmu telah terpenuhi, maka mereka tidak kamu butuhkan lagi.

c. Orang yang dipergaulinya seperti penyakit yang tingkatannya berbeda-beda. Ada yang seperti penyakit yang akut dan kronis, yang tidak mendatangkan manfaat sama sekali baik untuk agama maupun dunia. Kalaupun tidak kedua-duanya, kamu mesti rugi dalam salah satu dari dunia atau agama. Jika kamu tetap bergaul dengannya, maka hal ini merupakan penyakit berbahaya yang membawa kepada kematian. Di antara mereka ada yang tidak baik dalam berbicara denganmu, ada yang tidak tahu diri. Bahkan kalau bicara menyakitkan sementara ia sendiri bangga dengan ucapannya itu, bicaranya seenaknya namun ia menyangka ucapannya itu bagai wewangian yang mengharumkan ruangan. Singkatnya, berteman dengan orang yang seperti ini hanya keterpaksaan. Sesungguhnya di antara kesusahan dunia bagi seorang hamba ialah ia tidak bisa lepas dari orang seperti ini padahal ia tidak menyukainya. Maka hendaklah kamu mempergaulinya dengan cara yang ma’ruf, dan lahiriah saja, tidak dengan bathiniahnya sampai Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagimu.

d. Orang yang keseluruhan dalam pergaulannya mendatangkan bahaya dan bencana. Hal ini seperti minum racun. Jika menemukan obat penawar, ia beruntung. Kalau tidak, maka matilah ia. Semoga Allah Ta’ala tidak memperbanyak orang seperti ini. Mereka ialah ahli bid’ah dan orang yang sesat, yang menghalangi sunnah Rasulullah dan menyeru orang untuk melakukannya. Mereka menjadikan sunnah sebagai bid’ah dan bid’ah sebagai sunnah. Kelompok keempat ini tidak boleh dijadikan teman bergaul oleh orang yang berakal. Kalau dipergauli, maka hati yang mempergaulinya akan mati atau minimal sakit.

5. Saat akan mengadakan kunjungan (pertemuan), harus janjian terlebih dahulu dengan yang akan didatangi, agar hemat waktu dan tenaga.

6. Hendaknya kamu selalu membaca sirah (biografi) para salaf, bagaimana mereka ketat dalam memanfaatkan waktu dengan menggunakan secara benar, utamanya para ulama, para da’i dan mujtahid.

7. Supaya kamu tidak diganggu oleh orang yang nganggur (yang suka membiarkan waktunya hilang percuma), maka sebaiknya engkau tidak memberitahukan nomor telepon, dan hendaklah kamu pandai dalam berupaya melepaskan diri dari orang-orang yang suka membuang-buang waktu dengan mengatakan kepadanya bahwa nomor telepon khusus untuk keluarga atau saudara.

Sabtu, 21 Maret 2020 / 26 Rajab 1441 H

Penulis: Ummu ’Abbas
Mahasiswi FTK UNISBA

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Referensi:

  1. Al-Ukhuwah Al-Islamiyah oleh Abdullah Nasih ‘Ulwan hlm. 17 Maktabah Al-Manar cet.II
  2. Al-Aqidah oleh Imam Abu Ismail As-Shabuni (w. 449 H) dari Risalah Hajru Al-Mubtadi’ oleh Dr. Bakar Abu Zaid hlm. 19
  3. Juz 1/390
  4. Hajru al-Mubtadi’ hlm.12
  5. Tazkiyat an-Nufus hlm. 42
  6. Aafat Ala Ath Thariq hlm.42
  7. Ibid 3/126, 3/114

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *