Kesabaran Seorang Wanita yang Berbuah Surga

Siapa di antara kita yang tidak pernah mengalami cobaan dalam kehidupan? Baik itu diberi cobaan dalam bentuk penyakit, musibah, dan cobaan dalam harta dan keluarga. Tentu semuanya pernah mengalaminya.. Mengapa begitu? Karena di kehidupan dunia, kita senantiasa dihadapkan antara dua hal saja, yaitu antara kebahagiaan dan kesengsaraan.

Begitu juga para shahabiyah (shahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang perempuan) yang pasti ditimpa oleh berbagai musibah dan ujian. Ujian mereka jauh lebih berat dari yang kita hadapi, karena besarnya ujian yang didapatkan sebanding dengan seberapa besar kadar keimanan yang dimiliki seorang hamba Allah. Ketahuilah bahwa ujian dalam kehidupan kita terkandung hikmah yang patut direnungkan. Setiap ujian yang menimpa kita akan berbuah pahala apabila kita ridha dan sabar akan ujian tersebut. Semakin besar ujian yang menimpa kita, akan membuahkan pahala yang semakin besar.. Simak sabda Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya.” (HR. Tirmidzi; hasan shahih)

Barangkali ini yang membedakan kebanyakan dari kita dengan shahabiyat. Yaitu kuatnya sifat sabar dalam hati mereka ketika ditimpa musibah sehingga semua kesakitan, kemiskinan, kehilangan orang-orang yang mereka cintai, dan siksaan lahir dan batin itu tidak menggoyahkan keimanan mereka, tidak menjadikan mereka lantas berkeluh kesah akan takdir Allah.

Salah satu shahabiyah yang jarang diketahui kisah kesabarannya yang berbuahkan surga ialah seorang wanita yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghuni surga tatkala ia masih hidup di dunia, yaitu Ummu Zufar al-Habasyiyah.

Ummu Zufar merupakan perempuan yang hitam dan tinggi. Beliau mengidap penyakit ayan (epilepsi). Seringkali penyakit ini membuatnya kejang-kejang dan tak tersengajai auratnya dengan mudah tersingkap. Namun ia tidak berkeluh kesah akan hal tersebut, melainkan, coba kita perhatikan apa yang dilakukan Ummu Zufar pada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah ini.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata pada Atha’:

“Maukah engkau aku perlihatkan seorang wanita ahli surga?” Aku menjawab, “Tentu saja.” Selanjutnya dia berkata, “Perempuan hitam ini telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, dia berkata, ‘Sesungguhnya aku terkena penyakit ayan (epilepsi) dan auratku (kadang) terbuka. Doakanlah aku (agar Allah menyembuhkanku).’ Rasulullah berkata, ‘Jika engkau mau bersabar, engkau mendapatkan surga. Dan jika engkau mau aku doakan, aku akan mendoakanmu supaya Allah menyembuhkanmu.’ Dia berkata, ‘Aku akan bersabar, tetapi auratku terbuka, maka berdoalah kepada Allah agar auratku tidak terbuka.’ Kemudian Rasulullah mendoakannya.” [HR. Al Bukhari, 5/214]

Ummu Zufar akhirnya tidak memilih disembuhkan namun ia memilih bersabar dalam penyakitnya tersebut, karena ia tahu betapa besarnya ganjaran pahala yang akan diperoleh kelak di akhirat atas kesabarannya. Kesabarannya terhadap penyakit yang menimpanya menyebabkan ia masuk surga dan tidak akan dihisab di akhirat kelak oleh Allah Ta’ala.

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar rahimahullah berkata bahwa ibroh (pelajaran) yang bisa diambil dari kisah ini ialah amalan yang berat dan menyusahkan itu lebih utama daripada amalan yang ringan dan mudah bagi orang yang merasa dirinya mampu dan tidak lemah jika melaksanakan yang berat. Hikmah lain yang dapat kita petik ialah bahwasanya kesabaran terhadap cobaan di dunia akan memasukkan kita ke surga kelak.

Selain dari kesabaran yang berbuah surga, kisah ini juga menunjukkan kemuliaan, kesucian, dan kehormatan diri dari seorang Ummu Zufar. Karena ia memintakan doa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar auratnya tidak terbuka dan ia berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari setan yang berusaha menyingkap auratnya. Sudah selayaknya kita, sebagai wanita Muslimah, bercermin dengan keteguhan dan kesabaran Ummu Zufar. Meskipun sangat mungkin ia dalam keadaan tidak sadar karena penyakit yang dimilikinya, namun ia berharap auratnya tetap terjaga. Sedangkan para wanita muslimah zaman sekarang berbuat sebaliknya dan senang tabarruj, yaitu menampakkan aurat dan pesona fisiknya di hadapan kaum lelaki yang bukan mahram. Padahal Allah telah menutup dirinya dengan perintah hijab sesuai aturan syari’at dan memberinya kesempurnaan fisik baik kesehatan tubuh maupun keselamatan jasmani.

Semoga kita dapat menjadi hamba Allah yang senantiasa bersabar ketika ditimpa musibah dan cobaan dalam kehidupan dunia yang sementara ini. Serta meniti jejak Ummu Zufar Al-Habasyiyah dalam menutup aurat dan menjaga diri sebagai seorang Muslimah sehingga dapat meraih kemuliaan yang tinggi di sisi Allah. Wallahu a’lam.

Bandung, 28 Jumadal Akhirah 1441H (22 Februari 2020)

Penulis: Ummu Mu’adz
Mahasiswi SITH ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Sumber:
1. Para Shahabiyat Nabi (Terjemahan dari Shuwar Min Siyar ash-Shahabiyyat radhiyallahu ‘anhun dan Durus Min Hayat ash-Shahabiyyat). Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, Penerbit Darul Haq, Cetakan III, Tahun 1439 H, halaman 274-278.
2. https://almanhaj.or.id/3450-setiap-muslim-akan-menghadapi-ujian-dan-cobaan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *