Jiwa Manusia

Pada hakikatnya, manusia memiliki dua sisi, yaitu baik dan buruk. Tingkat urgensi untuk memperhatikan perihal jiwa manusia sangatlah tinggi. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Asy-Syams ayat 9,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” [QS. Asy-Syams: 9]

Makna asal kata “az-zakaat” adalah bertambahnya kebaikan, sehingga yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah bahwa siapa saja yang berusaha untuk menyucikan, memperbaiki, dan mengisi jiwa dengan memperbanyak amalan ketaatan dan kebaikan, serta menjauhi segala keburukan, maka pastilah dia akan beruntung. Allah Ta’ala juga berfirman dalam Surat Asy-Syams ayat 10,

وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها

“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” [QS. Asy-Syams: 10]

Makna asal kata “tadsiyyah” adalah menutupi. Orang yang bermaksiat, artinya dia telah menutupi jiwanya yang mulia dengan melakukan berbagai macam dosa, menguburnya dengan berbagai hal yang rendah dan hina, menghancurkan dan merusaknya dengan melakukan berbagai hal yang tercela, sehingga jiwanya pun menjadi jiwa yang rendah dan hina. Sehingga dengan hal itu, jiwa tersebut berhak mendapatkan kesengsaraan dan kerugian (di akhirat). Wal ‘iyaadzu billah.

Dalam al-Quran, Allah menyebutkan nafsu dengan 3 sifat, yang ketiganya kembali kepada keadaan masing-masing nafsu.

Pertama, nafsu muthmainnah [النفس المطمئنة]

Itulah jiwa yang tenang karena iman, amal soleh, dan ketaatan kepada Rabnya. Allah berfirman,

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS. ar-Ra’du: 28]

Allah juga berfirman,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” [QS. al-Fajr: 27-28]

Kedua, nafsu lawwamah [النفس اللوّامة]

Kata laamayaluumu [لام – يلوم] secara bahasa artinya mencela. Laa’im [لائم] artinya orang yang mencela. Jika dia suka mencela disebut lawwam [لوّام].

Disebut nafsu lawwamah karena nafsu ini sering mencela orangnya disebabkan ia telah melakukan kesalahan, baik dosa besar, dosa kecil, atau meninggalkan perintah, baik yang sifatnya wajib atau anjuran. Allah bersumpah dengan menyebut nafsu jenis ini dalam al-Quran,

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Aku bersumpah dengan menyebut nafsu lawwamah.” [QS. al-Qiyamah: 2]

Ketiga, nafsu ammarah bis su’u [النفس الأمارة بالسوء]

Itulah nafsu yang selalu mengajak pemiliknya untuk berbuat dosa, melakukan yang haram dan memotivasi pemiliknya untuk melakukan perbuatan hina. Allah sebutkan jenis nafsu ini dalam surat Yusuf,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” [QS. Yusuf: 53]

Tiga keadaan di atas, tergantung dari suasana jiwa. Artinya, jiwa manusia bisa menjadi muthmainnah, dalam sekejap dia juga bisa berubah menjadi lawwamah, dan juga bisa langsung berubah menjadi ammarah bis suu’.

“Jiwa yang mulia, tidaklah ridha terhadap sesuatu, kecuali terhadap sesuatu yang paling tinggi, paling mulia dan paling terpuji (paling baik) hasil akhirnya. Adapun jiwa yang rendah, dia hanya berputar di sekeliling perkara yang hina, dia menghampiri perkara hina itu sebagaimana lalat menghinggapi kotoran. Jiwa yang mulia dan tinggi, tidak akan ridha terhadap tindak kedzaliman, hal yang vulgar, pencurian, dan pengkhianatan, karena jiwanya lebih besar dan lebih mulia dari itu semua. Sedangkan jiwa yang hina dan rendah, berkebalikan dengan hal itu. Maka setiap jiwa akan cenderung kepada sesuatu yang selaras dan sesuai dengannya.” [Al-Fawaaid karya Ibnul Qayyim, hal. 178]

Oleh karena pentingnya penyucian jiwa tersebut, maka setiap muslim yang ingin memperbaiki diri wajib memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, memaksa jiwanya untuk mewujudkan tujuan yang terpuji ini dalam kehidupannya, sehingga dia beruntung di dunia dan akhirat, serta menikmati kebahagiaan yang hakiki.

Sesungguhnya, jiwa seorang muslim memiliki hak, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وإن لنفسك عليك حقا

“Sesungguhnya jiwamu memiliki hak atas dirimu.”

Sungguh keliru orang yang menyangka bahwa hak jiwa tersebut adalah dengan bersikap keras kepadanya dan menghalanginya dari fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana juga keliru orang yang menyangka bahwa hak jiwa tersebut adalah dengan meremehkan dan abai memperbaiki, serta membiarkannya tenggelam dalam syahwat.

Sangatlah jauh dari kebenaran, penyucian jiwa bukanlah semacam itu. Bahkan, penyucian jiwa itu adalah dengan menempuh jalan-jalan syariat, dengan sikap pertengahan, tanpa disertai sikap berlebih-lebihan (ifraath) dan sikap meremehkan (tafriith). Akan tetapi, penyucian jiwa itu adalah dengan berpegang teguh dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya yang lurus.

Allahu a’lam.

Penulis: Ummu Ahmad
Mahasiswi FITB ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Referensi:
https://muslim.or.id/44085-10-kaidah-dalam-menyucikan-jiwa-bag-1.html
https://konsultasisyariah.com/34052-macam-macam-nafsu-dalam-al-quran.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *