Futur: Tanda Aqidah Bermasalah

Futur dalam bahasa Arab diambil dari kata فتر, di mana setiap kata yang terdiri dari 3 huruf dalam bahasa arab memiliki 2 makna.

Makna yang pertama adalah makna secara bahasa yakni melemah setelah kencang dan diam setelah bergerak dengan kuat.

Sementara makna kedua atau makna secara istilah: berpindah dari ketaatan kepada kemaksiatan, berpindah dari kesemangatan taat kepada kelemahan taat.

Futur sangat berkaitan dengan aqidah seseorang karena futur merupakan kebalikan dari istiqomah. Ketika futur menimpa seseorang, hendaknya ia berkaca dan mengevaluasi bagaimana keadaan aqidahnya.

Istiqamah sendiri menurut Imam Ibnu Rajab al-Hambali adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqamah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meniggalkan semua pekara yang dilarang. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama. [1]

Istiqamah memiliki dua rukun utama:

1. Mengenal jalan (معرفة الطريق) yakni seseorang tidak akan bisa istiqamah apabila tidak mengenal jalan menuju istiqamah.

2. Selalu berjalan di jalan yg benar tersebut, sebagaimana yang Allah perintahkan pada QS. al-Hijr ayat 99:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (ajal).”

Kedua rukun tersebut menjelaskan bahwa istiqamah tidak hanya mempertahankan kebaikan yang ada tapi harus juga mengenal jalan kebaikan itu terlebih dahulu, mencari apakah jalan tersebut benar akan mendatangkan kebaikan. Setelah itu baru dilaksanakan secara kontinyu.

Ketika seseorang dalam mode futur, ingat baik-baik bahwa aqidahnya sedang bermasalah. Hal ini menjadikan indikator bahwa harus ada yang diperbaiki dalam hal aqidah. Maka hendaknya bagi seorang muslim tidak berhenti mempelajari aqidah yang benar, terus melakukan muhasabah terhadap diri sendiri, serta berusaha sebisa mungkin untuk menjauhi hal-hal yang bisa merusak aqidah.

Selain itu tidak dapat dipungkiri bahwa futur itu pasti terjadi. Karena hati manusia itu sering berbolak-balik, iman manusia bisa naik dan turun, sehingga futur bisa terjadi pada setiap manusia.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubanaa ‘ala tho’atik.” [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!] (HR. Muslim no. 2654).

An-Nawawi membawakan hadits ini dalam bab, “Allah membolak-balikkan hati sekehendak-Nya.” [2]

Hal ini sebagaimana keyakinan ahlus-sunnah wal-jamaah, yakni iman itu ada lima kalimat:

  1. Mengimani dengan janan (hati).
  2. Mengucapkan dengan lisan.
  3. Beramal dengan arkan (anggota tubuh).
  4. Bertambah dengan bertaqwa kepada ar-Rahman.
  5. Berkurang dengan maksiat.

Seorang muslim akan mendapatkan manisnya iman apabila ia benci kembali ke arah kekufuran setelah ia berhijrah. Dan futur merupakan salah satu jalan yang bisa menyebabkan seseorang kembali kepada kekufuran. Hal ini menunjukkan bahwa kita harus selalu waspada terhadap sifat futur ini dan berusaha untuk menghindarinya.

Berikut adalah potret orang yang futur:

  1. Mengerjakan maksiat berulang-ulang, meremehkan maksiat dosa kecil, bermaksiat saat sendirian. Sesungguhnya melakukan dosa saat sendirian dapat menghapuskan pahala.
  2. Hati terasa keras membatu, tidak masuk nasihat dan ketika dibacakan ayat al-Qur’an hatinya tidak bergetar, juga ketika melihat jenazah atau kematian tidak bergetar hatinya.
  3. Tidak maksimal saat ibadah, seperti doa namun tidak hadir hatinya.
  4. Malas beribadah, termasuk pula futur orang yg sering menjama’ maghrib dan isya, malas melaksanakan shalat sunnah, tidak peduli terhadap waktu-waktu kebaikan seperti ketika adzan dikumandangkan masih sibuk dengan hal-hal duniawi. Termasuk pula ketika malas dzikir pagi-sore.
  5. Lemahnya iman.
  6. Suka dengan popularitas atau pamor.
  7. Bakhil dan kikir.
  8. Mengajak untuk berbuat kebaikan namun tidak mengamalkan.
  9. Melihat kepada sebuah perbuatan hanya dari sisi haram atau tidak.
  10. Meremehkan amal baik.
  11. Suka berdebat dan tidak berusaha meninggalkannya.
  12. Terlalu sibuk dengan mencari dunia dan harta.

Semoga Allah selalu memberikan keistiqamahan di dalam hati kita dan menjauhkan kita dari futur serta jalan menuju futur. Wallahu a’lam.

Berdasarkan kajian Ustadz Ahmad Zainudin dengan judul Futur Musuh Utama Hijrah, pada 13 November 2018 di Masjid Al-Ukhuwwah Bandung.

Penulis: Ummu Sauda
Mahasiswi STEI ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Referensi:
[1] https://almanhaj.or.id/4197-istiqomah.html
[2] https://rumaysho.com/984-doa-agar-diteguhkan-hati-dalam-ketaatan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *