Bersungguh-Sungguh dalam Menuntut Ilmu

Saudariku sekalian, pernahkah kalian melihat bagaimana seorang mahasiswa begitu tekun belajar, bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu, bahkan tidak sedikit dari mereka rela memangkas jam tidurnya hanya untuk belajar dan menambah pemahamannya? Semua itu mereka lakukan dengan harapan mendapatkan hasil yang maksimal berupa nilai maupun predikat.

Begitu banyak manusia yang bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu demi mendapatkan apa yang mereka inginkan di dunia. Lalu bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai penuntut ilmu? Sudah kah kita berusaha bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu? Ataukah kita menjadi sebagian dari mereka yang bersungguh-sungguh dalam mengejar dunia namun lalai dalam perkara akhirat terutama menuntut ilmu? Allahul-musta’an.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” [HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish-Shaghiir, no. 3913]

Saudariku, tentu kita mengetahui bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi muslim dan muslimah. Dan salah satu adab dalam menuntut ilmu adalah bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya. Karena sungguh, ilmu agama lebih berhak kita perjuangkan dengan segala daya dan upaya yang kita miliki. Seperti halnya para penuntut ilmu dunia, mereka senantiasa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dikarenakan ada yang ingin mereka peroleh, berupa prestasi cemerlang misalnya, begitu pun dengan penuntut ilmu syar’i, hendaknya mereka menanamkan kesungguhan dalam belajar dengan mengingat keutamaan menuntut ilmu untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai manusia memang sudah fitrahnya kita akan bersemangat ketika mengetahui keutamaan dari apa yang kita kerjakan. Maka sudah sepatutnya kita bersemangat dalam menuntut ilmu, karena ilmu dapat menjadi jalan kita menuju surga sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [HR. Muslim]

Terdapat banyak sekali keutamaan dalam menuntut ilmu, yang seharusnya dapat menjadi bahan bakar semangat kita dalam mempelajari ilmu syar’i. Selain itu, kita dapat menanamkan rasa bersungguh-sungguh tersebut dengan membaca kisah para ulama dalam menuntut ilmu. Begitu banyak perjuangan yang mereka berikan demi mendapatkan ilmu. Banyak dari Shahabat Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang rela bepergian bahkan berjalan jauh hanya untuk bertanya tentang ilmu. Seperti halnya Alqamah bin Qais An-Nakha’i dan Aswad bin Yazid An-Nakha’i penduduk Irak yang pergi ke Madinah hanya untuk mendengarkan langsung hadits dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Ada banyak pula kisah para ulama yang tidak memiliki harta yang banyak namun memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu, seperti contoh Imam Syafi’i yang tidak memiliki kertas sehingga menuliskan ilmunya di tulang.

Lihat, bagaimana perjuangan para ulama terdahulu demi mendapatkan ilmu. Lalu bagaimana dengan kita yang hidup di zaman penuh kemudahan ini? Sudah banyak sekali fasilitas yang biidznillah mempermudah kita dalam menuntut ilmu, dan dapat kita manfaatkan secara gratis pula. Lalu sudahkah kita bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu, mempelajarinya dan mengulang-ulangnya agar lebih paham? Hendaknya kita mengingat perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

إنما العلم بالتّعلّم، والحلم بالتّحلّم، ومن يتحرّ الخير يعطه، ومن يتوقّ الشّرّ يوقه.

“Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan (sungguh-sungguh) belajar, dan sikap sabar (penyantun) diperoleh dengan membiasakan diri untuk bersabar. Barang siapa yang berusaha (keras) mencari kebaikan maka ia akan memperoleh kebaikan, dan barang siapa yang menjaga dirinya dari kejelekan (kejahatan) maka ia akan dilindungi Allah dari kejelekan (kejahatan).” [HR. Ibnul Jauzi dalam al-‘Ilal Mutanaahiyah (I/85, no. 83) dan al-Khatib dalam Taarikh Baghdaad (VII/2018, no. 2793) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no.342)]

Semoga Allah mudahkan kita dalam menuntut ilmu syar’i serta mengamalkannya, dan juga semoga Allah tumbuhkan rasa cinta dan kesungguhan dalam mempelajarinya. Aamiin allahuma aamiin.

Bandung, 28 Jumadits Tsani 1441 H (22 Februari 2020)

Penulis: Ummu Hafshah
Mahasiswi FMIPA ITB

Artikel PanduanMuslimah.com

Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Referensi:
Buku “Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
https://muslimah.or.id/10472-keutamaan-menuntut-ilmu-agama.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *